Tebak Wajah itu May 22, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.16 comments
Ayo, wajah siapakah ini?
Blog bisa berisi macam-macam. Tebak-tebakan juga boleh, khan?
Nah, coba tebak foto masa muda siapa yang ada di sisi kiri ini?
Kalau Anda suka mengamati wajah orang, tidaklah sulit untuk menerka foto bergaya KTP siapa itu. Meskipun orang itu kini berkumis, tampaknya wajah gantengnya memang sudah ada sejak dia masih remaja.
Tidak heran jika wajah handsome ini bisa menarik hati seorang selebritis ayu untuk menjadi istri keduanya. Inilah yang mungkin membawanya ke konflik dengan anak-anak dari istri pertamanya. Anak mana yang tidak akan membela ibunya jika ternyata bokapnya kawin lagi?
Saya tidak tahu bagaimana wajahnya setelah, konon, dia digampar oleh anak dari istri pertamanya. Apakah dia masih keren? Atau lebam-lebam menghapus kegantengannya? Saya tidak tahu.
Ada yang tahu wajah siapakah dia?
Pak Tua itu May 22, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.18 comments
Jangan mati dulu, Pak Tua. Tunggu 32 tahun lagi.
Saya selalu berdoa semoga Pak Tua selalu panjang umur. Saya yakin dokter-dokter paling hebat di Indonesia ini mampu menaikkan kadar hemoglobin Pak Tua sampai taraf yang dibutuhkan agar Pak Tua bisa tetap sadar meskipun sakit. Saya juga selalu berharap agar pendarahan masif di usus besar Pak Tua bisa segera pulih kembali sehingga makanan apapun bisa masuk ke dalam perut. Masih ingat khan berapa ratus juta pajak yang ditilep untuk program mobil nasional? Uang itu khan bisa untuk memuaskan perut Pak Tua itu.
Saya juga berahap masih ada orang yang mau melakukan transfusi darah ke badan Pak Tua. Bukan apa-apa, bukankah dari dulu memang Pak Tua adalah penghisap darah? Bukan hanya darah orang kaya, pengusaha, dan lawan politik. Darah mahasiswa pun Pak Tua hisap. Sampai sekarang ternyata Pak Tua masih juga suka menghisap darah. Kali ini mungkin darah dari PMI, ya?
Saya juga ingin agar Pak Tua tetap bisa menghirup oksigen. Pak Tua, oksigen di negeri ini masih gratis kok. Tapi, untuk orang setenar Pak Tua, semahal apapun oksigen itu, republik ini saya pikir masih kuat mengongkosinya. Jangankan oksigen yang bersih, murni dan menyehatkan, oksigen impor pun akan kami datangkan jika memang diharuskan. Dulu Pak Tua mengimpor yang kapal bekas dari Eropa, sekarang kami akan datangkan oksigen untuk kesehatan Pak Tua. Tapi, kok kelihatannya pulih 100% nggak mungkin, ya? Biarlah, toh yang merasakan sakit cuma Pak Tua saja.
Saya juga selalu ingin agar usus Pak Tua yang dipotong bisa segera pulih. Kenapa dipotong, Pak Tua? Apakah isi usus itu telalu banyak sehingga harus dipendekkan? Jangan khawatir Pak Tua. Kami bisa memanjangkannya lagi kalau memang Pak Tua ingin “makan” lebih banyak dan lebih kenyang lagi.
Saya juga ingin ginjal Pak Tua segera pulih supaya segala macam minuman bisa ditenggak dengan lancar. Indonesia masih punya banyak cairan berharga, kok. Jutaan barel minyak masih tersedia untuk ditenggak. Kapan Anda siap kembali meminumnya, Pak Tua?
Pak Tua, saya ingin agar Anda tetap bisa sadar walaupun sakit. Jangan berkecil hati, di Merapi masih banyak juga orang yang sengsara. Anggap saja mereka senasib. Anda tidak sakit sendirian, Pak Tua. Indonesia sejak dulu juga sakit, kok.
Pak Tua, sebentar lagi Anda ulang tahun. Ayo, sadarlah meski sakit. Berulangtahunlah sampai lebih dari 32 tahun lagi. Rasakan semuanya sekarang. Rasakan, Pak Tua! Rasakan semuanya!
Selamat ulang tahun, Pak Tua. Jangan mati dulu. Tunggu 32 tahun lagi!
Kurang Bayar itu May 19, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.9 comments
Pernah beli sesuatu dan ternyata uang di kantong tidak mencukupi? Terpaksa meninggalkan KTP?
Saya pernah mengalaminya. Beli barang ternyata uangnya tidak cukup. Untunglah pedagangnya kenal. Cukuplah memberinya janji untuk secepatnya kembali memberikan uang kekurangannya. Tidak perlu meninggalkan KTP. Tidak perlu juga melepas jam tangan sebagai jaminan sementara sampai kekurangannya kita lunasi.
Tapi, itu tidak terjadi di Jerman. Seorang wanita Jerman berniat membeli bensin untuk kendaraannya. Parahnya, uang di dompet tidak cukup. Apa akal? Bukan KTP atau jam tangan yang ditinggalkannya di pompa bensin itu. Justru, yang digunakannya sebagai jaminan adalah temannya sendiri. Kurang ajar juga wanita wanita itu, ya!
“Dia tidak mempunyai cukup uang untuk membayar tagihan, maka temannya ditinggalkan sebagai jaminan sedangkan dia pergi untuk menarik uang tunai,” kata seorang polisi di kota Muenchberg. “Parahnya, wanita itu tidak kembali.”
Anda pernah mengalami kurang bayar dan terpaksa meninggalkan jaminan? Malu nggak, sih?
Senyum itu May 19, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.3 comments
Tidak mudah menebak senyum asli atau palsu.
BBC punya sebuah kuis sederhana, tapi menarik. Kita diminta untuk menebak apakah senyum seseorang itu asli atau palsu. Mereka mempunyai dua puluh video singkat yang menunjukkan orang sedang tersenyum. Ada cowok, ada cewek. Ada orang bule, ada juga orang berkulit hitam. Ada muda, dan juga ada tua. Sekali lagi, tugas kita hanya menebak apakah senyum seseorang itu asli atau palsu. Mudah, ya, tampaknya!
Ternyata menebak senyum seseorang itu tidak mudah, ya. Saya hanya berhasil menebak 13 dari 20 video yang ditampilkan. Artinya, saya salah menebak tujuh video yang lain. Duh…
Nah, berbicara tentang senyum, Harian Metro menyebutkan bahwa untuk tersenyum hanya hanya menggunakan 17 otot muka dibanding 43 otot yang bekerja ketika mengerutkan dahi. Wah, artinya, lebih mudah untuk tersenyum daripada cemberut, khan? Tapi, mengapa banyak orang yang cemberut, ya?
Sudah berapa kali Anda tersenyum hari ini?
Foto: Corbis
Wedhul Gembes itu May 18, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.8 comments
Suhu wedhus gembel 1000 derajat celcius. Gimana ngukurnya?
Lagi-lagi tentang Gunung Merapi. Kali ini adalah tentang wedhus gembel. Bukan kambing berbulu lebat yang hidup di seputar Gunung Merapi itu. Wedhus Gembel adalah sebutan yang diberikan oleh masyarakat awam untuk awan panas yang keluar dari kawah gunung berapi itu. Awan panas ini yang bergulung-gulung ini persis seperti bulu kambing domba. Oleh karena itu mereka menyebutnya sebagai wedhus gembel. Apakah ini semacam kearifan lokal juga, paman?
Menurut informasi yang didapat dari TEMPO Interaktif, awan panas atau wedhus gembel ini suhunya mencapai 1000 derajat celcius. Itu artinya 10 kali lipat dari suhu air mendidih yang bisa untuk menyeduh kopi panas. Panas sekali, bukan?
Nah, ada pertanyaan simple yang diajukan seorang rekan kerja tentang suhu wedhus gembel itu.
“Eh, gimana ya cara para ahli itu mengukur suhu wedhus gembel? Apa mereka naik ke atas sambil membawa termometer untuk mengukur suhu itu?” tanyanya lugu.
Aku diam karena memang tidak tahu caranya. Maklumlah, bukan anak IPA! Pertanyaan model anak kecil ini terkesan lugu, tapi kalau jawabannya ngawur juga bikin si penjawab ketahuan begonya, bukan?
Ada yang tahu bagaimana cara mengukur suhu wedhus gembel? Bikin pecas ndahe saja nih si wedhul gembes.
Iraq, Washington itu May 18, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.2 comments
Pilih liburan ke Iraq atau ke Washington?
Lebih aman mana Iraq atau kota-kota di Amerika? Bayangan selintas akan memberikan jawaban bahwa kota-kota seperti New Orleans, Washington DC, Baltimore dan Atlanta jauh lebih aman ketimbang negerinya Saddam Hussein yang sedang diduduki oleh tentaranya George Bush.
But, wait…
Menurut Steve King seperti dikutip New York Sun, seorang Republikan dari Iowa, angka kekerasan yang mengakibatkan kematian di Iraq adalah 25.71 per 100.000. Angka itu keliatannya tinggi, ya? Tapi, coba bandingkan dengan negara seperti Kolombia (61.7), Afrika Selatan (49.6), Jamaika (32.4) dan Venezuela (31.6). Ternyata Iraq lebih aman, khan?
Bagaimana dengan kota-kota di Amrik? Wah, angkanya ternyata tinggi juga. New Orleans (53.1), ini angka sebelum badai Katrina meluluhlantakkan daratan di sana. Washington DC (45.9), Baltimore (37.7) dan Atlanta (34.9).
Sayangnya tidak ada angka yang menunjukkan tingkat kekerasan yang berujung kematian untuk kota Jakarta. Pasti di bawah Iraq sih.
Jadi, buat orang-orang tua yang anaknya sedang ujian akhir, ada baiknya memberikan hadiah liburan ke Iraq untuk melihat-lihat peninggalan jaman Mezopotamia yang cantik, eksotik dan bersejarah. Jangan takut dengan keamanan di sana. Tingkat keamanannya lebih tinggi daripada Washington, kok.
Perambah Bernama Maxthon itu May 17, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.1 comment so far
Maxthon muncul, IE dan Firefox tambah keren. Kita untung, kok.
Diam-diam ternyata ada mesin perambah baru yang namanya Maxthon. Mesin dibangun menggunakan kode IE. Mungkin seperti dulu kita pernah mengenal NeoPlanet, kali, ya.
Menurut sang empunya Maxthon, mesin ini sudah digunakan oleh lebih dari 55 juta pemakai. Jumlah itu bertambah jutaan orang setiap bulannya. Padahal Maxthon belum dirilis secara resmi, lho. Mereka baru akan melepasnya dalam minggu-minggu ini. Pembuat mesin perambah ini bilang bahwa Maxthon adalah sebuah mesin yang canggih. Mereka sedang mempersiapkan versi 2 yang akan berfitur keren, seperti antarmuka yang bersih, layout yang bisa dikostomisasi, multitab, pembaca RSS dan lain-lain.
Mengapa browser baru muncul? Sebelumnya kita dengar Flock yang berbasiskan kode dari Mozilla telah diluncurkan. Gaungnya sudah menurun beberapa bulan ini. Sementara itu dua pemain besar mesin perambah, IE dan FireFox, pun selalu mengupdate aplikasi mereka. Padahal semua browser itu dilepas gratis, tidak ada harganya. Jadi, apa yang mendorong orang untuk membuat mesin perambah yang gratis itu? Uang tentu saja!
Mozilla, misalnya, konon membukukan pendapatan 72 juta dollar tahun lalu. Dari mana uang itu berasal? Salah satunya adalah dari iklan Google yang diakses banyak orang ketika mereka melakukan pencarian lewat field yang ada di Firefox. Ketika hasil pencarian muncul, dan orang mengklik iklan yang ada di sana, maka Firefox mendapatkan bagiannya dari Google. Kelihatannya sederhana, namun demikianlah kenyataannya. Padahal Firefo tidak hanya menyediakan pencarian untuk Google. Mereka juga punya Amazon sebagai partner. Inilah pundi-pundi yang menghasilkan dollar bagi Mozilla.
Nah, pundi-pundi seperti itulah yang tampaknya sekarang menjadi rebutan Firefox, Flock, Maxthon dan mesin perambah yang lain.
Siapa yang menang? Nggak tahu, karena perjalanan masih panjang. IE masih mendominasi, Firefox tetap membayangi. Pemain baru selalu ada di belakang untuk menanti. Siapa yang diuntungkan? Tentu saja adalah kita sebagai konsumen. Biarkan mereka berkompetisi untuk membuat produk yang canggih. Kita tinggal menikmatinya saja.
Mbah Maridjan itu May 17, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.15 comments
Orang besar itu sedang mengemban amanah. Biarkan saja….
Seperti dibilang oleh Mas Pecas Ndahe, Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman menyebut Mbah Maridjan itu sebagai orang besar. Cirinya adalah bahwa dia mampu menjawab dan memberi penjelasan dengan ringkas, tegas dan logis.
Seperti dikutip di blog itu, Mbah Maridjan bilang,”Saya itu pengemban amanah sebagai juru kunci Gunung Merapi karena itu saya mesti menjadi orang terakhir yang meninggalkan Gunung Merapi.”
Mbah Maridjan itu ibaratnya seorang nahkoda kapal yang bernama Merapi. Nah, kapalnya hampir meledak. Dia tidak mau mengungsi seperti penduduk lain. Bahkan dia menuju ke arah sumber letusan. Keras kepala memang, tapi itulah tanggung jawabnya sebagai juru kunci, sebagai nahkoda.
Kita bayangkan seandainya seorang Mbah Maridjan tergopoh-gopoh mengungsi ketika Merapi masih dalam status siaga. Bisa-bisa seantero Magelang, Yogya, Klaten dan Boyololali akan heboh. Jangan-jangan nanti ada yang berpikir bahwa nahkodanya saja “melarikan diri” mengungsi, jangan-jangan bumi memang mau ambruk. Iya, khan?
Terus terang saya kagum dengan nahkoda tua ini. Dia tidak mau meninggalkan kapal itu sebelum seluruh penumpangnya selamat. Ini namanya Mbah Maridjan memenuhi amanahnya sebagai seorang juru kunci Merapi. Lha, apa dia tidak takut dengan letusan Gunung Merapi?
“Merapi kuwi mahluk alus, iso ngukum wong sing srakah,” katanya ketika wartawan KOMPAS menanyakan hal itu.
Bagaimana jika Mbah Maridjan tewas terkena letusan Gunung Merapi? Ya biarkan saja. Dia memang jadi juru kuncinya, kok. Lagi pula pemerintah juga sudah memperingatkan, kok.
Weleh… opo ra hebat Mbah Maridjan itu…Dia orang besar, man!





Blog ini milik Pujiono, seorang pekerja media yang tinggal di Tangerang. Dia bukanlah seorang wartawan. Dia juga bukanlah orang yang punya krenteging ati untuk secara teratur menuliskan pikiran dan ide lewat blog.