jump to navigation

Khayalan Dua Blogger itu June 15, 2006

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
7 comments

Dua blogger mimpi jadi kaya. Kuncinya adalah jangan malas, jangan takut dan jangan malu

Dua orang blogger berkhayal memiliki uang segudang. Yang satu adalah Didats, dia berkhayal untuk mempunyai uang sebanyak yang dipunyai oleh Pak Tua. Jumlahnya ajubileh banyaknya sampai-sampai dia bisa beli rumah di Jakarta & Bali, beli pesawat pribadi, beli Jaksa agung (biar kebal hukum), beli AC Milan, sisanya bangun sekolah-sekolah yang masih nggak punya kelas. Blogger yang ngendon di Bali itu memang baik hati sampai-sampai orang yang senyum kepadanya akan digelontori uang sejuta! Tajir benerrrr!

Lain lagi dengan Julianus Johan Wowor yang tinggal di Surabaya. Dia memimpikan menjadi David Beckham yang gajinya Rp.42 milyar per bulan dan tiap tarikan nafasnya menghasilkan 16 ribu rupiah. Jangan lupa, Beckham juga punya istri cantik.

Dua blogger itu menurut e-Psikologi.com sedang melakukan khayalan liar. Khayalan dua blogger itu menggambarkan peristiwa hidup yang “enak-enak” di mana kita pun tidak meyakini sepenuhnya akan terjadi pada diri kita. Eh, tapi siapa tahu suatu saat templet yang dibikin Didats bisa dibeli oleh Google dan dia dianugerahi dollar segudang. Ingat, senyum ke Didats pun akan diberi sejuta. Opo tumon?

Bagaimana agar khayalan bisa menjadi kenyataan? Situs psikologi itu memberi tips singkat: jangan malas, jangan takut, dan jangan malu. Baca deh semuanya! Yang jelas, mengkhayal itu asyik. Bukan begitu, Didats dan Julian?

Ngomong-ngomong, apa khayalanmu hari ini? Lebih canggih mana: khayalan Didats, Yulian atau khayalanmu?

Presenter Cendana itu June 14, 2006

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
26 comments

Konon, usai Piala Dunia sederetan acara TV akan berganti presenter.

Kenekatan SCTV memasang komisarisnya yang sekaligus anak Pak Tua menjadi presenter Piala Dunia menuai protes dari para penggila bola. Rata-rata dari mereka merasa terkejut dengan penempatan Titiek sebagai presenter acara televisi yang sudah dinanti-nanti oleh jutaan pasang mata.

Untunglah sekarang semua itu usai sudah. Tidak ada lagi Titiek di acara Piala Dunia-nya SCTV. Kita sekarang boleh menonton dengan nyaman.

Tapi, menurut kabar burung dan cerita nggak jelas asal muasalnya, keluarga Cendana bakal muncul lagi di berbagai acara televisi usai Piala Dunia berakhir.

Contohnya adalah Mas Tommy yang sebentar lagi keluar dari lembaga pemasyarakatan. Anak emas Pak Tua ini konon kabarnya akan muncul setiap siang sebagai Bang Napi di acara berita kriminal RCTI Sergap. “Waspadalah.. waspadalah…,” begitu peringatan yang akan diucapkan oleh Tommy setiap siang.

Mas Bambang lain lagi. Kesuksesannya memperistri penyanyi sekaligus selebriti tenar tentu sangat cocok dengan acara Playboy Kabel andalah SCTV. Kita nantikan saja apakah dia juga sukses membawakan acara itu.

Sementara itu Ratna Listy yang selama ini membawakan acara Bedah Rumah di RCTI konon juga harus siap-siap minggir. Mba Halimah yang sukses “membedah rumah” Mayangsari akan menjadi ikon baru tayangan reality show itu. Tentu saja nanti tidak ada lagi mobil yang ngeloyor menabrak pagar rumah yang akan dibedah.

Nah, kabar burung juga mengatakan bahw Mba Tutut tidak tinggal diam. Mantan Menteri Sosial pada jaman Pak Tua berkuasa itu akan menjadi pembawa acara Rejeki Nomplok menggantikan Peggy Melati Sukma. Hebat, khan? Dulu, ketika krismon melanda, dia juga sering bagi-bagi rejeki untuk orang miskin.

Sementara itu kabar yang tidak jelas sumbernya juga mengatakan bahwa pemandu kuis Who Wants To Be A Millionaire juga harus hengkang cepat-cepat. Tantowi Yahya akan segera digantikan oleh Mayangsari, istri keduanya Mas Bambang. Asyik, khan? Kecanggihan triknya menggaet ratusan juta rupiah dalam waktu singkat tentu akan memotivasi para peserta, bukan?

Nah, bagaimana dengan Pak Tua sendiri? Berhubung keadaan dan kesehatannya, kabar burung mengatakan bahwa cukuplah dia memandu acara H2C alias Harap-Harap Cemas saja di SCTV. Ya, harap-harap cemas apakah Kejaksaan Agung akan menyeretnya ke pengadilan atau tidak. Dag… dig… dug… Harap-harap Cemas!!

Jadi, mari kita siap-siap untuk terkejut lagi jika memang kabar burung itu bisa dipercaya.

Update:
Sigit, anak lanang Pak Tua yang lain, menurut kabar burung akan menjadi pemandu acara reality show di Indosiar yang bernama The Apprentice yang dulunya digawangi oleh Peter Gontha. Keahliannya menghabiskan dollar bisa ditularkan kepada para peserta, bukan?

Foto: Corbis

Berkat itu June 14, 2006

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
3 comments

Apa jadinya bila semua tim Piala Dunia minta pemberkatan dari Paus, apakah lantas semuanya menjadi juara?

Ini cerita yang ada di KORAN TEMPO pagi ini sebagai pemanasan menjelang pertandingan antara Jerman sebagai tuan rumah dan Polandia.

Kisah lucu ini dipaparkan oleh Bora Milutinovic seorang pelatih kelahiran Bajina Basta, Serbia. Jugador yang pernah menukangi Mexico (1986), Costa Rica (1990), Amerika (1994), Nigeria (1998), dan China (2002) kala itu menangani tim nasional Meksiko. Milutinovic bersama para pemainnya beraudiensi dengan Sri Paus pada 1984 sehari menjelang partai persahabatan melawan Italia. Setelah berbincang mereka berpamitan dan Sri Paus melepas mereka dengan mengangkat tangan kanan, kelima jarinya terentang.

Besok harinya, gawang Meksiko kebobolan lima gol.

“Untung beliau cuma mengangkat lima jarinya. Kami gembira karena dia tidak mengangkat kedua tangannya,” kata Milutinovic penuh canda. Bila Paus merentangkan kesepuluh jarinya, merujuk Milutinovic, mungkin Meksiko kebobolan sepuluh gol.

Tentu saja pelatih yang sekarang berkewarganegaraan Mexico itu cuma bercanda. Pemberkatan dari Paus bukan untuk mendoakan agar sebuah tim menang, tapi untuk memberi kedamaian. Apa jadinya bila semua tim Piala Dunia minta pemberkatan dari beliau, apakah lantas semuanya menjadi juara?

Jangan bawa-bawa agama dalam sepakbola karena sepakbola itu sudah menjadi agama bagi sebagian orang. Gitu, ya?

Lumpur itu June 13, 2006

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
8 comments

Jawa Timur akan tenggelam akibat lumpur yang datang tanpa henti – Lia Aminudin.

Lumpur itu identik dengan sesuatu yang kotor. Inilah tanah yang bercampur dengan air namun tidak encer. Lumpur jelas tidak berguna kecuali yang ada di sawah yang sedang dibajak untuk persiapan penanaman. Lumpur juga mengesalkan, cair tidak, keras pun tidak. Pengendara mobil seringkali lebih ragu-ragu untuk menapaki jalan yang berlumpur dibanding jalan yang berair. Pejalan kaki pun tidak menyukai lumpur. Tanah bercampur air ini jelas-jelas bisa menempel di sandal atau sepatu. Membersihkannya pun lebih merepotkan daripada terkena air.

Sekarang bayangkanlah jika lumpur itu terus menerus keluar dari sebuah sumur tanpa bisa dihentikan. Seluruh areal di sekitarnya bisa-bisa tergenang kotoran tak berguna ini.

Inilah yang terjadi di sumur pengeboran gas di Porong, Sidoarjo, jawa Timur milik PT Lapindo Brantas sejak 29 Mei 2006 lalu. Menurut hitung-hitungan matematis, dalam sehari lapangan sepakbola bisa terendam lumpur setinggi setengah meter jika sumur itu tidak bisa disumbat. Jalan tol pun tergenangi cairan pekat berwarna hitam ini. Pekarangan penduduk pun seperti lautan lumpur bercampur gas berlerang yang baunya menjijikan.

Apa makna di balik semua ini? Mungkin kita sedang diingatkan oleh Yang Kuasa untuk memperhatikan lingkungan setelah berbagai bencana menghantam kita: gempa, tsunami, banjir, tanah longsor, kebakaran hutan. Mungkin kita selama ini terlalu mengeksploitasi alam dengan sangat serakah.

Pun seandainya ada ramalan dari Lia Aminudin yang mengatakan,”Jawa Timur akan tenggelam akibat lumpur yang datang tanpa henti”, mari kita tangkap pesan itu sebagai sebuah peringatan untuk selalu memperhatikan lingkungan kita.

Ceile… serius benerrrr! Basiii banged…!

Kejutan Piala Dunia itu June 12, 2006

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
15 comments

Kejutan pertama bukan berasal dari lapangan hijau, tapi dari studio SCTV.

Betapa senangnya saya yang tidak bisa menonton partai pembukaan Piala Dunia yang ditayangkan oleh SCTV. Maklumlah, ketika acara tersebut digelar, saya sedang berada di tengah hutan Lampung. Di sana sinyal SCTV dari Bandar Lampung sangat lemah sehingga gambarnya tidak nyaman ditonton. Sinyal dari Palembang pun tidak bisa ditangkap juga meskipun antena UHF sudah dipasang setinggi pohon kelapa. Sementara itu sinyal SCTV dari satelit hanya menayangkan gambar-diam ketika siaran sepakbola sedang ditayangkan.

Eit…, kenapa saya senang?

Ternyata oh ternyata ada kejutan dalam siaran langsung yang dipelototin oleh jutaan pasang mata di seluruh nusantara itu. Kejutan itu adalah munculnya anak Pak Tua dengan rambut disasak tinggi dan tergerai di kedua pundaknya. Kata temen yang nonton siaran itu, gaya bicara anak Pak Tua ini jauh dari meyakinkan. Bolak-balik matanya mencari-cari teks yang harus dibacanya. Belum lagi gaya mulutnya yang munca-muncu (halah, bahasa opo to iki..)

Waduh, saya nggak langsung percaya sama temen. Saya coba baca di The Jakarta Post sebuah tulisan yang berjudul “Suharto clan riding the World Cup wave on SCTV” di edisi Hari Minggu, 12 Juni 2006 halaman 2. Di dalam tulisan itu, Ade Armando dari Komisi Penyiaran Indonesia memberikan komentarnya:

“Technically speaking, she is not someone who knows a lot about soccer. Politically, she is not known as clean figure and physically she is not very attractive to lure viewers.”

Ingat, itu kata-kata dari Ade Armando, lho, yang merupakan pakarnya komunikasi. Eh, ceritain dong gimana gayanya anak Pak Tua itu. Asyik, nggak sih?

Fans Fanatik itu June 12, 2006

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
4 comments

Fans mau melakukan apa saja.

Selama sebulan ini dengan mudah kita temui orang yang fanatik terhadap permainan sepakbola. Orang-orang fanatik itu (kita sering menyebutnya sebagai “fans”) rela melakukan apa saja asal keinginannya untuk menonton sepakbola bisa terpenuhi. Lihatlah di kampung-kampung di seluruh Indonesia, jutaan orang begadang agar bisa memelototi layar kaca sampai peluit akhir ditiup. Mereka terpaksa menenggak kopi bergelas-gelas agar mata tetap bisa dipicingkan. Bahkan ada juga yang rela jam istirahatnya terpotong agar tetap bisa menonton tendang-tendangan si bola kulit.

Itu belum seberapa. Kita juga pernah melihat ke-fanatikan para bonek dari Surabaya mendukung kesebelasan mereka. Tanpa modal yang cukup, hanya bermodal nekat, mereka datang ke ibukota. Tanpa karcis mereka ingin masuk stadion. Inilah kefanatikan yang kebabablasan. Mereka adalah fans yang tidak patut ditiru.

Ada lagi contoh kefanatikan yang lain. Ini dialami oleh Janiece Harris, seorang fans beratnya Arsenal dan Diego Armando Maradona. Dia menyewa seorang ahli hukum untuk mengubah namanya menjadi Jandiego Janiece Jennifer Dorothy Arsenal Maradona. Bayangkan betapa repotnya si Harris ini ketika dia harus menuliskan namanya di paspor atau KTP-nya. Tapi, demikianlah fans, orang yang fanatik, yang rela melakukan sesuatu yang ekstrim demi keyakinannya.

Apakah Anda seorang yang fanatik sepakbola juga? Anda fans beratnya Brazil, Inggris atau Jerman?

Foto: FIFAWorldCup

Foto Bayi Termahal itu June 9, 2006

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
18 comments

Harga foto bayi kok mahal amir, US$4 juta, euy

Sekarang giliran ngegosip lagi, ah. Foto bayi pasangan Brad Pitt dan Angelina Jolie yang bernama Shiloh Nouvel Jolie-Pitt sudah beredar di internet. Inilah foto termahal untuk seorang bayi yang baru lahir: harganya ajubileh beneran. Jangan heran dan kaget kalau Anda mendengarnya: US$4 juta atau Rp.40milyar. Walah…!

Pitt dan Jollie (keduanya sampai sekarang belum menikah) menjual hak atas foto itu kepada agen foto Getty Images. Hasil penjualannya akan diberikan ke badan amal, tapi sampai sekarang belum ketahuan organisasi sosial mana yang akan diberi. Kemudian Getty menjual lagi hak itu ke majalah People untuk wilayah Amerika Utara dan majalah Hello! untuk wilayah Inggris.

Walah-walah, wong cuma foto seperti itu kok ya harganya mahal banget, ya?

Kelakuan selebriti Indonesia lain lagi. Mantu pak tua itu, misalnya. Ketika cucu pak tua lahir, wartawan kesulitan mencari berita. Bahkan pihak rumah sakit pun menghalang-halangi juru warta. Coba kalau dulu foto cucu pak tua itu dijual, mungkin bisa untuk membantu korban bencana, ya? Tapi, apa ada infotainmen yang mau beli foto itu?

Foto: People

Adidas itu June 9, 2006

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
22 comments

Ada yang mengatakan Adidas itu artinya Asoy Di Dalam Sarung ada pula yang menyebutnya All Day I Dream About Sex.

Paman Kéré menulis tentang sejarah asal mula dua perusahaan sepatu terkenal asal Jerman: Adidas dan Puma. Pasti ini gara-gara kedua merk sepatu ini dipakai oleh banyak pemain sepakbola selama Piala Dunia di Jerman, khan? Tapi, saya punya cerita lain tentang merek Adidas ini.

Dulu, ketika masih kecil, di kampung saya punya teman yang namanya Adi. Dia sering sekali diledek oleh temen-temannya dengan sebutan Adidas. Kata teman-temannya yang suka menggoda, Adidas itu kepanjangannga Asoy Di Dalam Sarung. Hahaha…. Entah dari mana asal-usul akronim itu. Yang pasti, ledekan yang tadinya hanya ditujukan untuk bercanda saja akhirnya berbuah keributan. Adi marah besar. Sampai sekarang, ketika kami sudah sama-sama besar, Adi masih cemberut jika mengingat akronim kurang ajar itu.

Ah, jangankan ledekan yang tidak serius itu. Adidas di luar negeri juga pernah diplesetkan dengan akronim All Day I Dream About Sex. Jangan heran pula jika PEPSI diplesetkan sebagai “Pay Every Penny to the State of Israel” atau “Pay Every Penny to Save Israel” atau “Bayar Tiap Sen Untuk Menyelamatkan Israel”. Kurang ajar banget, khan?

Anda punya plesetan nama produk seperti itu juga?