Tele Violence itu July 23, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.trackback
TeleVision berubah menjadi Tele Violence. Mengerikan, ya?
Berapa jam dalam seminggu Anda menonton televisi? Saya sendiri bisa dibilang jarang nonton acara televisi dari awal dampai akhir acara. Semua acara yang saya tonton pasti sepotong-sepotong. Film pun jarang saya nikmati dengan sempurna. Apalagi film-film yang diputar di televisi swasta Indonesia sekarang ini lebih sering adalah re-run. Jadi, saya lebih suka nonton DVD daripada nonton televisi.
Tapi, tentu saya tidak semua orang seperti saya. Ada juga yang suka sinetron gaya India yang jalan ceritanya jauh dari kenyataan sehari-hari. Umpatan kasar dan perilaku klenik yang tidak masuk akal tidak saya sukai. Saya juga tidak suka acara kuis yang hadiahnya milyaran rupiah namun tanpa menggunakan otak. Benar-benar tidak mendidik sama sekali.
Saya juga tidak suka acara berita kriminal yang penuh dengan orang terluka dan cerita pemerkosaan, penjambretan, perampokan dan sejenisnya. TeleVisi sekarang sudah berubah menjadi tele violence. Mengerikan, khan?
Acara apa yang saya suka? Jenis film dokumenter gaya National Geographic dan Discovery Channel. Sayangnya porsi acara seperti ini tidak banyak di layar kaca kita.
Saya dukung hari tanpa televisi pada 23 Juli 2006 ini bersamaan dengan Hari Anak Nasional. Anda mendukung juga, khan?


Blog ini milik Pujiono, seorang pekerja media yang tinggal di Tangerang. Dia bukanlah seorang wartawan. Dia juga bukanlah orang yang punya krenteging ati untuk secara teratur menuliskan pikiran dan ide lewat blog.
Tentu saja bapak!
Maklum, acara dokumenter kurang ‘menjual’. Saya sendiri menganggap kalau siaran TV itu sudah menjadi polusi. Baik polusi suara (karena hampir semua tokohnya pasti berteriak-teriak) dan polusi mental. Lebih berbahaya dari polusi CO!
Ya, setuju.. Saya sendiri berusaha agar anak saya tidak terbiasa menjadi penonton TV, terutama u/ acara2 sinetron dan action. Bila terpaksa, saya lebih suka membelikan DVD bertema pendidikan. Selain itu, kita sendiri harus berdisplin u/ tidak menonton tayangan2 tsb selama si kecil masih berada di ruangan yg sama (dan bagi banyak ortu, ini adalah bagian yg tersulit).
Saya udah (hampir) gak pernah nonton TV. Paling yang saya tonton berita, film dokumenter.
Rugi banget masukin sampah (sinetron, gosip, telenovela) ke dalam otak.
No offense guys!