Salah Delete itu July 18, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.9 comments
Salah hapus itu manusiawi. Tapi, akibatnya bikin pusing tujuh keliling juga, lhoo..
Kemarin saya bingung setengah mati. Email dari seorang klien beserta attachementnya tidak sengaja terhapus dari inbox. Celakanya, keranjang sampah pun sudah saya kosongkan. Waduh! Saya coba cari-cari cara agar email yang sudah terhapus itu muncul kembali, namun hasilnya nihil. Bagian teknologi informasi pun saya hubungi. Mereka cepat datang, namun akhirnya angkat tangan juga.
Saya diam sebentar. Seandainya saya minta email itu dikirim ulang, saya pasti tampak ceroboh sekali. Padahal, sayalah satu-satunya orang yang dikirimi email itu.
Tiba-tiba, saya ingat bahwa alamat yang digunakan oleh si klien untuk mengirim email itu adalah alamat di Gmail yang secara otomatis diforwad ke inbox saya. Oalah…. ! Akhirnya email itu bisa saya dapatkan kembali.
Hal seperti itu juga dialami oleh seorang pekerja di PlusNet yang secara tidak sengaja menghapus 700 gigabita email pelanggan ketika melakukan update. Akibatnya 140,000 pelanggan tidak bisa menerima dan mengirimkan email melalui PlusNet.
Waduh.. pusing juga ya kalau seperti itu. Anda pernah mengalami salah hapus seperti saya? Asyik, khan? Hehehe…
Gempa Jakarta itu July 17, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.6 comments
Saya tidak merasakan adanya gempa. Moga-moga memang tidak terjadi gempa yang besar di Jakarta.
Kata orang, hari ini Jakarta dan sekitarnya diguncang gempa 5.5 SR. Tapi, dari sejak makan siang sampai saat saya menulis sekarang, tidak ada goncangan sedikit pun yang saya rasakan. Mungkin episentrumnya memang jauh dari tempat saya bekerja. Atau, mungkin juga karena saya terlalu banyak bergerak sehingga getaran gempa tidak bisa saya rasakan. Tapi, kalau melihat angkanya, 5.5 SR bukanlah gempa yang kecil.
Setelah mengecek situs USGS pun saya tidak mendapatkan gempa yang konon terjadi pada pukul 15.15 WIB dan berpusat di 9.46 LS dan 107.19 BT. Waduh, mungkin alat deteksi gempa milik Amerika tidak bisa memonitor getaran yang ada di Pantai Pangandaran ini.
Ngomong-ngomong tentang gempa, saya jadi ngeri juga. Teringat bagaimana tsunami telah melanda Aceh pasca gempa, juga Bantul yang juga luluh lantak karena lindu. Moga-moga gempa besar tidak melanda Jakarta. Semoga!
Adakah Anda merasakan gempa di sore hari ini di Jakarta? Cerita, dong…
Update: Peta gempa yang dikeluarkan oleh USGS sudah bisa dilihat, silakan akses di halaman milik mereka.
Selat Sunda itu July 14, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.5 comments
Menyebarang laut di malam hari. Saya tidur pulas.
Tengah malam hari nanti, saya akan berada di selat Sunda. Ya, berada di pertengahan antara pulau Jawa dan pulau Sumatera. Tapi, kemungkinan besar saya tidak akan lihat air laut yang mengelilingi kapal yang saya naiki. Saya lebih suka tidur di dalam kendaraan daripada terkena angin laut yang kencang di malam hari.
Jadi, seusai pulang kerja nanti, saya akan menuju ke stasiun Gambir di tengah kota Jakarta. Lho, memangnya ke Sumatera naik kereta api? No, no… Bukan naik kereta api, tentu. Saya akan naik bis Damri untuk menyeberang selat Sunda itu. Perjalanan akan dimulai sekitar jam 20.00. Paling tidak pada jam 23.00 bis ini sudah masuk kapal besar.
Kebiasaan saya, begitu sudah masuk bis adalah tidur pulas. Apalagi jika kepala sudah ditutupi dengan kupluk seperti punya Didats dan badan terbungkus jaket dan selimut. Rasanya nyaman saja tidur dalam perjalanan.
Sekitar subuh nanti baru bis berhenti di kota Bandar Lampung. Dari sana saya masih harus ke tengah hutan lagi. Untuk apa? Ah, itu urusan pribadi saya. Nggak semuanya perlu saya ceritan di blog, khan?
Yang pasti, kalau sudah musim durian, pasti saya akan banyak makan buah itu di tanah sumatera itu. Jadi, selamat berakhir pekan.
Carok Madura itu July 13, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.61 comments
Sate, soto dan carok jadi simbol utama Madura, ya?
Apa yang kamu ingat kalau mendengar kata Madura? Pertama-tama tentu adalah sate madura. Sate ayam madura ini ada di hampir semua kota. Rasanya pun hampir-hampir standard sama. Kedua mungkin juga masih berhubungan dengan makanan juga: soto madura. Tapi kelihatannya soto madura kalah terkenal dibanding sate madura, ya?
Nah, apalagi yang diingat? Bisa jadi kita ingat akan celurit orang Madura yang tajam itu. Nah, celurit inilah yang dipakai orang dari pulau garam itu untuk melakukan carok, yaitu pertarungan satu lawan satu menggunakan celurit untuk membela harga diri. Itu rumusan carok di masa lalu. Rumusan ini ternyata sudah berubah karena ada juga carok yang terjadi hanya gara-gara uang seratus RIBU rupiah (Thanks, Ronny atas koreksinya). Jika ada yang ingin membaca tinjauan antropologis tentang carok, silakan baca dokumen ini.
Jaman film Indonesia masih jaya pada 1985, ada juga film layar lebar yang berjudul Carok yang dibintangi oleh Advent Bangun, El Manik, Barry Prima. Saya belum pernah menonton film itu, tapi tebakan saya kurang lebih film ini menceritakan tentang perebutan wanita, deh. Am I right?
Nah, carok massal yang terjadi di Desa Bujur Tengah, Pamekasan pada rabu 12 Juli 2006 yang lalu lain lagi ceritanya. Kali ini penyebabnya adalah perebutan tanah bengkok. Tujuh orang tewas mengenaskan.
Apalagi yang terkenal dari Madura? Kumis lebat, kali, ya?
Kebahagiaan itu July 12, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.6 comments
Ternyata kita lebih berbahagia dibanding orang Amrik dan Inggris. Opo tumon?
Apakah orang Indonesia berbahagia? Jika pertanyaan itu diajukan ke banyak sekarang, kemungkinan besar jawabannya adalah tidak. Kenaikan harga BBM, bencana tsunami, lindu di Yogya, banjir di Kalimantan, banjir lumpur Lapindo di Sidoarjo dan berbagai kisah sedih lainnya memaksa jawaban atas pertanyaan tadi adalah TIDAK.
Namun, New Economics Foundation yang berbasis di Inggris punya jawaban berbeda. New Economics Foundation (NEF) mengeluarkan daftar negara paling bahagia, dan Vanutu di Pasifik adalah negara paling berbahagia di dunia. Daftar itu dibuat berdasarkan apa yang mereka sebut sebagai Happy Planet Index (HPI). Nah, apa itu HPI?
Happy Planet Index is an innovative new measure that shows the ecological efficiency with which human well-being is delivered around the world.
Jadi, dimana posisi negeri kita tercinta ini? Indonesia, yaaa…lumayan ada di tempat ke-23. Ternyata kita lebih berbahagia dibanding orang Amrik yang ada di posisi 150 dan juga orang Inggris yang nangkring di tempat ke 108. Hebat, bukan?
Apakah kamu merasa berbahagia?
Ranjau Paku itu July 12, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.19 comments
Paku bertebaran di jalanan. Logika mengatakan yang menyebar adalah tukang tambal ban.
Anda pernah melewati rute dari RCTI di Kebonjeruk ke arah Pondok Indah? Inilah rute saya tiap hari untuk mencapai tempat kerja. Jika Anda juga sering melewatinya, pasti Anda tahu bahwa jalur yang Anda lalui itu penuh dengan ranjau? Ya, bukan ranjau yang bisa meledak, memang. Soalnya, ranjau yang bertebaran di sepanjang jalan ini bentuknya adalah paku. Entah siapa orang yang dengan kurang ajar telah menyebar paku itu. Benar-benar menjengkelkan dan tidak bermoral. Dengan logika sederhana saja pasti orang akan menunjuk pada tukang tambal ban di jalur itu, bukan?
Bulan lalu gerobak saya tertembus 5 (LIMA) buah paku sekaligus. Untungnya saya masih bisa mengendarainya sampai ke arah Tangerang karena saya menggunakan ban tubeless. Ketika dicek, ternyata jumlah udara di dalam ban sudah jauh berkurang dan penyebabnya adalah terkena paku di lima titik yang berbeda.
Sebenarnya ada juga beberapa orang yang dengan sukarela membersihkan jalur itu dari ranjau. Saya lihat beberapa kali polisi mengangkut dua orang yang memegang tali yang digantungi magnet untuk menarik ranjau-ranjau itu. Tapi, bukankah lebih mudah menyebar paku daripada memungutinya kembali satu per satu? Ini yang menyebabkan jalur RCTI-Pondok Indah tidak pernah bersih dari ranjau. Detikcom juga mengendus jalur ini sebagai jalur penuh ranjau.
Anda pernah terkena ranjau juga? Dimana? Kesel, khan?
Kabel-kabel itu July 11, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.6 comments
Kabel tiap saat membelit hidup kita
Berapa jumlah kabel yang Anda pegang setiap hari? Mari kita hitung. Paling tidak, tiap hari kita selalu berhubungan menggunakan telepon lewat saluran milik Telkom. Tiap telpon menggunakan satu kabel. Di kantor ada komputer yang menggunakan banyak kabel. Ada kabel untuk USB, kabel yang menghubungkan ke keybord, kabel ke monitor, kabel mouse. Nah, komputer itu tidak akan nyala tanpa kabel power, khan? Masing-masing kabel bentuknya beda, fungsinya beda juga.
Di kantor, ketika melakukan setup proyektor presentasi, kita menggunakan kabel lagi. Ada kabel yang menghubungkan komputer dengan proyektor. Selain itu masih ada juga kabel power lagi. Kalau presentasinya multimedia, maka kita juga harus menghubungkan kabel speaker ke komputer. Nah, kabel speaker tidak hanya satu, yang kiri dan yang kanan. Ugh, repot banget, ya?
Bisakah suatu saat nanti kita bisa benar-benar terbebas dari kabel secara total? Saya nggak tahu. Kenapa saya tanyakan ini? Karena saya benci banget dengan kabel-kabel yang melilit-lilit. Sabtu kemarin, saya membereskan perkabelan di kamar rumah. Untuk menghubungkan televisi, DVD, dan stereo set saja perlu beberapa lama. Parahnya lagi, sampai sekarang suara televisi tidak bisa keluar stereo. Ugh, ada yang bisa bantu? Kapan dunia ini benar-benar wireless?
Foto: Jon Feingersh/zefa/Corbis
Leot Koran Aneh itu July 10, 2006
Posted by JalanSutera.com™ in Blog.5 comments
Leot cover diwolak-walik. Asyik juga, sih..
Gambar di samping ini adalah layout KORAN TEMPO edisi Ahad 9 Juli 2006 yang lalu. Saya baru menerimanya hari ini. Maklumlah, saya memang tidak berlangganan koran ini pada hari libur seperti Sabtu dan Minggu.
Ada yang aneh pada koran yang memuat prediksi pertandingan Piala Dunia 2006 itu. Jika pada edisi yang normal pada halaman satu hanya ada satu logo, maka edisi ini memuat dua logo sekaligus. Italia, demikian koran ini menulis, mempunyai peluang menang 55%. Sedangkan Prancis, lawannya, mari kita balik dulu, mempunyai peluang menang 45%.
Mengapa harus ada dua logo dan hurufnya dibolak-balik? Well, saya tidak tahu alasan pastinya. Mungkin ini hanya untuk menjaga perasaan para penggemar masing-masing kesebalasan. Prancis, meskipun tidak diunggulkan oleh koran ini, posisinya tidak berada di bawah Italia. Demikian pula sebaliknya. Semuanya ada di atas, semuanya diberi tempat yang nyaris sama. Adil, khan?
Saya jadi ingat cover majalah DR (awalnya adalah singkatan dari Detektif dan Romantika, namun seiring angin kebebasan, nama panjangnya adalah Demokrasi dan Reformasi) yang menampilkan Mbah Soeharto seperti kartu remi. Penguasa orde baru itu marah, majalah itu ditarik dari pasaran. Ada yang ingat peristiwa itu?
Ngomong-ngomong, apakah Anda pembaca terganggu dengan kreativitas cover KORAN TEMPO seperti itu? Eh, mau liat lebih jelas tampang KORAN TEMPO edisi wolak-walik itu, silakan liat di sini, diambil dari Newseum.org


Blog ini milik Pujiono, seorang pekerja media yang tinggal di Tangerang. Dia bukanlah seorang wartawan. Dia juga bukanlah orang yang punya krenteging ati untuk secara teratur menuliskan pikiran dan ide lewat blog.