jump to navigation

Sekolah dan kemiskinan itu August 24, 2006

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
trackback

Orang miskin benar-benar dilarang sekolah

Kali ini saya hanya akan memforward sebuah pesan email dari seseorang yang namanya LenaJuwita. Dari pesan yang dia kirim, tampak sekali bahwa dia sangat kecewa dengan cara-cara institusi pendidikan dalam mendapatkan uang. Berikut kita simak pesannya yang panjang itu.

Kejadian saat tengah mengantar keponakan untuk mendaftar di D3 Universitas Padjadjaran, sebuah Universitas Negeri di Bandung. Tanggal 22 Agustus 2006 adalah Batas akhir pembayaran. Karena tidak bisa membayar full maka kami memasuki sebuah ruangan yang disebut ruangan untuk mahasiswa “kasus”. Dan disana berjejal puluhan mungkin ratusan orang tua Dan calon mahasiswa yang mempunyai masalah keuangan.

Untuk sebuah Universitas Negeri biaya kuliah sangat Mahal, D3 MIPA total lebih dari 8 jt, ekonomi hampir 9,5 jt malah Ada yang sampai 10 juta. Tidak hanya sampai itu saja, yang sangat menyesakkan hati adalah tidak Ada toleransi sama sekali, uang pengembangan memang bisa diangsur itupun hanya 2 bulan sampai bulan September sejumlah 4,5 jt. Seorang ibu meminta penundaan pembayaran sampai keesokkan harinya, panitya menolak tegas, harus Hari ini. Penundaan yang cuma satu Hari saja ditolak tegas. Dengan sedih Ibu Dan anaknya itupun pulang.

Bagaimana ini? Bukankah seharusnya Universitas Negeri tidak boleh menolak calon mahasiswa yang sudah Lulus test dengan susah payah? Bila Ada alasan karena sudah mendaftar seharusnya orang tua sudah siap dengan keuangan, masa tidak Ada toleransi sama sekali? Bukankah seharusnya Panitya bertanya dulu apa kesulitan Orang tua tersebut tidak langsung menolak tegas. Jangan katakan bahwa ibu itu harus mencari sekolah yang lebih murah. Ini universitas negeri, kepunyaan rakyat bukan milik orang perorang atau penguasa Unpad!!!!siapapun yang telah Lulus test berhak kuliah, masalah keuangan seharusnya difikirkan bersama, masa minta penundaan 1 Hari saja ditolak?

Dengan alasan perubahan status menjadi BHMN maka semua universitas diperbolehkan berlomba2 mengumpulkan sumber pendapatan tanpa Ada toleransi sama sekali? BUkankan telah diperbolehkan pula mengumpulkan Dana dari mahasiswa “jalur khusus” dengan ratusan juta uang pengembangan? Kenapa tidak dibuat subsidi silang yang mampu membantu yang tidak mampu?

Bagaimana ini manajemen Universitas? Seharusnya dengan kondisi Negeri Kita seperti ini harus Ada antisipasi penyelesaian. Bagaimanapun ini adalah tanggung jawab bersama bukan hanya orang tua saja. Apakah antisipasi penyelesaian dengan spanduk besar-besar Pinjaman Kredit Tanpa Agunan dari Bank Mandiri, apa ini menyelesaikan masalah? Orang tua yang untuk makan sehari Hari saja kesulitan disuruh berutang? Bukannya malah menambah beban masalah? Negara apa ini? Benar-benar menjerumuskan rakyatnya kedalam kemiskinan yang makin dalam.

Kenapa tidak diantisipasi dengan sponsor beasiswa? Dari Perusahaan, Industri Badan Zakat atau dari Alumni, dari pemerintah atau dari Manajemen Qolbu (AA Gym)? Membuka perwakilan di Universitas saat terjadi penerimaan mahasiswa baru. Kemudian diseleksi saat itu oleh pembuat keputusan? Apakah terlalu sulit? Seperti kejadian di UI untuk Fak Kedokteran beberapa Mahasiswa yang tidak mampu mendapat beasiswa dengan hanya membayar 2 jt atau dibebaskan dari uang kuliah. Kenapa tidak diikuti oleh Universitas lain?

Apa Kita harus diam saja? Tidak bisa berbuat apa2? Atau seharusnya saya waktu itu pake T-shirt ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH ya? Biar kerja panitya jadi ringan????

Photo: Corbis

Be the first to like this post.

Comments»

1. didats - August 24, 2006

*prihatin*

2. cahyo - August 24, 2006

speechless :(

3. Hedi - August 24, 2006

masih tetap…Indonesia banget :(

4. daniel - August 24, 2006

Happen in my campus too (ITS), telat bayar SPP == cuti 1 semester =(

5. budhi - August 24, 2006

*errrghhhhh….. duh kapan yah ada sekolah gratis … buat bikin org rakyat pinter aja masyarakat harus nebus dengan biaya mahal… hiks2… duh indonesiaku….mau dibawa kemana ini?….

6. josephine - August 24, 2006

coba emailnya di forward ke pk bambang (diknas) ato ke pk tommy ilyas (dirjen dikti=tommyilyas@eng.ui.ac.id) pasti ga ditanggepin hehehhe
mo gimana lg, disaat org SADAR bahwa pendidikan, kesehatan itu PENTING saat itu pula semua kalangan baik pemerintah or swasta memanfaatkan “kesadaran itu”

7. Irwin Day - August 24, 2006

Aduh, prihatin sekali melihat cara-cara Universitas Negeri menyikapi pembiayaan kuliah bagi orang yang tidak mampu. *Geram*

8. ipoul-bangsari - August 24, 2006

mas, di jawa timur sana ada sekolah murah. cuman 60 ribu sebulan all in. mulai dari sekolah, pesantren, makan, dll.

9. IMW - August 24, 2006

Saya ndak paham cara PTN menyikapi uang sekolah :-). Kampus saya PTS dari dulu sering sekali meringangkan biaya kuliah para mahasiswanya. Seharusnya PTN mampu kalau mau.

10. endah - August 24, 2006

yang pernah kerja di PTN di negeri indonesia tercinta, pasti merasakan betapa beratnya bekerja di bawah subsidi yang sangat kurang dari pemerintah sehingga fasilitas akademik minim, dana penelitian terbatas, upah kerja tdk sebanding dan standar yang ditinggikan.

sangat dilematis sodara-sodara. kalo mau kuliah gratis, jangan salahkan kampusnya! Kampus memang butuh biaya, utk praktikum, penelitian, pelatihan, buku, jurnal, up-date teknologi, dsb. Tanyakan ke negaranya, gimana bikin sistem!

kalo boleh mengajukan solusi:
1. semua biaya utk persekolahan ditanggung pemerintah. dg seperti ini otomatis sekolah gratis.
2. karena solusi 1 sepertinya mustahil, sekolah mencari sponsor dari NGO, foundation ini itu, USAid, AusAid, JICA dsb. sebagai ganti subsidi dari pemerintah. tapi biasanya ada kontrak yg mesti disepakati.
3. kampus membuka kelas internasional. nah, orang2 dari luar negeri diasumsikan berduit/kaya krn bisa sekolah ke luar negeri, dana dari siswa internasional utk subsidi siswa lokal (meniru gaya western countries)
4. solusi 2 dan 3 dpt dicapai kalo menang kompetisi global. kalo kampusnya masih berorientasi lokal (cari dana dari orang tua), solusi ke-4, mau gak mau sebagai orang tua mesti giat bekerja nih…
5. upah kerja minimum sangat minimum shg tdk menjangkau biaya mbak endah! oh ya… kalo begitu yg mau sekolah yg mesti usaha. belajar yg pinter, cari beasiswa! tawaran beasiswa sangat banyak, mulai dari beasiswa buku, beasiswa spp, bahkan ada juga beasiswa spp+biaya hidup. Beasiswa utk kuliah ke luar negeri juga banyak, bejibun, ribuan setiap tahunnya (saya gak bohong!). negara indo tercinta tuh jadi obyek negara2 kaya (katanya).
Contohnya, dari AusAid utk program ADS dan APS masing2 300 orang, belum yg program IPRS, ADB, USAid, dari belanda, german, inggris, swiss, jepang, malaysia, singapura…

enggak cuma ngasih biaya kuliah, juga ngasih biaya hidup, biaya utk keluarga, biaya penelitian. kalo sekolah ke LN sekalian bisa jalan-jalan…

Banyak kesempatan. Jangan cuma mengeluh! Gak akan merubah keadaan dan cuma bikin sakit hati sajah. Mari belajar berusaha berdoa. kuliah yang pinter. kalo sudah lulus, jangan lupa apa yg pernah dikeluhkan, diperjuangkan.

-sekian, terima kasih-

11. farahPutri - August 25, 2006

Universitas Negeri sekarang hampir menjadi sebuah “perusahaan”..loe bayar bisa belajar..loe ngutang,jangan harap bisa datang.. hihihi..

Makasi Mas,alhamdulillah kemarin bisa ujiannya.. :”)

Kenapa tidak ada shoutbox? hixhix,,

12. Tommy - August 29, 2006

Itulah Indonesia. Coba inget2 ama lagu Indonesia Raya, kayaknya pas banget buat nggambarin kondisi bangsa kita sekarang.

Satu hal saja, prihatin n rasanya pingin nangis baca email itu…..

13. m.taofik - December 21, 2006

memang benar, sekarang ilmu itu mahaaaal.padahal kita semua diwajibkan untuk mencari ilmu.

14. Emi - December 30, 2006

PenDidiKAn di InDonESia bLk L9 EuuY,,, ke JaMAn BeLaNDe…(Yang pNy dOKu d0aN9 yang biSa niKMatin PendiDiKan).

15. jo - January 5, 2007

gue juga lagi sedih nihhh tetangga gue tiap hari nyari utangan buat anaknye sekolah. tulisan di atas jadi tantangan buat eloe dan gue buat lakukan sesuatu , yuk kita mulai dari yang kecil.

16. helmi jundillah - January 13, 2007

lon sangat sedih ateuh naseb rakan lon disinan,
kamoe di aceh akan memperjuangkan mutu pendidikan dengan maksimal lagi,
bangket lah wahee aneuk nanggroe,tuntaskan kemiskinan pendidikan

17. fahmy - January 14, 2007

Dilematis, satu sisi kita terbelenggu oleh biaya mahasiswa satu sisi kita harus mengerti kesejahteraan dosen, habis guru juga dikebiri, Indonesia Banget, Bagaimana Ni SBY?ok Diam Ja

18. Darknetwork - January 17, 2007

Wa bener2 turut prihatin tuh. Pendidikan kita ini emang udah bergantung banget ama uang. Udah banyak orang yang mengurungkan cita2nya gara uang. gk berani ngebayangin negara kita beberapa waktu kemudian.

19. they_cute - January 18, 2007

gimana sich pendidikAN DI INDONESIA, MEMALUKAN. MAKANYA JANGAN BANYAK KORUPSI. DI UUD 1945 ALOKASI U/ PENDIDIKAN 20%, BUKTIKAN TUCH!! SBY – JK BISA GAK?!!!

20. robin - March 1, 2007

sial emang pemerintah ama dasar aja univ 23 sekarang pada serakah! orang mau pinter kok susah!

21. lusy mardiani,S.Pd - March 7, 2007

waduh..repot juga kalo untuk pen dibikin mahal dan sulit…:( koq lwbih kezam daripada jaman nenek moyang kita di jajah belanda..yang aneh nya lagi para pejabat negara kebanyakan kan lulusan luar negeri tuh..koq nggak mencontoh ini koq malah memepersulit..nggak mau kesaingin kali yah..:(( saya sih sekarang mulai deposit uang deh buat nyekolahin anak saya ke LN daripada disini mahal.trus (maaf)nggak berkualitas..dapat kerjanya susahhhh..mendingan nabung deh…anak saya umurnya baru 3 thn..nabung sampai 14 tahun ke depan..mudah2an bisa kesampaian kuliah di LN biar jadi anak yg berkualitas…ngeri deh nyekolahin anak di negeri sendiri..nggak percaya sama kualitas dan biayanya itu loh…ampuuuuuuuuuuun deh.

22. Iwan - July 24, 2007

Pendidikan yang berkualitas membutuhkan pengorbanan yang besar, sehingga kalo pengorbanan tsb dibebankan sepenuhnya kepada mahasiswa maka pendidikan menjadi mahal. Anak negeri yang berkuliah hanya orang berduit saja atau sang juara olimpiade. (mungkin: kebanggaan yang tersisa hanya kepada para juara olimpiade saja).

Di era globalisasi pilihan sekolah ke LN sah saja dan ekstra hati-hati. Apalagi banyak lembaga donor asing yang menawarkan program kuliah gratis. Seharusnya mereka yg akan berangkat harus mempunyai jati diri anak Indonesia dan kebal terhadap pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya sendiri. Jangan sampai saudara-saudara kita lulus dan pulang ke negerinya menjadi agen asing dan malu sebagai anak negerinya sendiri.

Kalau kita perhatikan banyak kebijakan pemerintah yang pro asing dan hal ini tidak lepas realita bahwa banyak pejabat dan tokoh-tokoh kita yang merupakan alumni perguruan tinggi asing.

Sekedar informasi ada lembaga perguruan tinggi lokal berwawasan global yang menyediakan 200 orang kuliah gratis/beasiswa (prodi Manajemen – S1 dan akuntansi – D3).

Kalo mau mampir saja.

Ayo Indonesia Bangkit!

23. rian - July 24, 2007

qu prihatin bangaet tapi apa mau di buat namany juga negeri kita.
kalah ama kuba yang negerinya miskin mana diembargo ama amerika tapi pendidikannya gratis coy sampe kulia..


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>