jump to navigation

Dubbing film itu August 30, 2006

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
trackback

Dubbing film menjengkelkan, khan?

Saya memang bukan seorang movie mania meskipun mempunyai ratusan judul DVD. TV lebih sering menjadi alat yang meninabobokan saya. Tapi, rasanya kesel juga ketika semalam menonton Bioskop TransTV. Semalam televisi itu memutar film yang berjudul Belphegor, the Phantom of Louvre. Pemainnya antara lain adalah si cantik Sophie Marceau yang berperan sebagai Lisa, seorang wanita yang rumahnya berseberangan dengan museum Louvre di Prancis itu.

Ternyata film itu adalah karya seni bikinan Prancis yang berjudul Belphégor – Le fantôme du Louvre. Yang menjadi masalah adalah televisi kita memutar versi Inggrisnya, bukan versi asli yang menggunakan bahasa Prancis. Meskipun saya tidak benar-benar fasih menggunakan bahasa Inggris dan Prancis, saya kesel juga melihat mulut para pemain yang bolak-balik melongo tapi tidak mengeluarkan suara. Ini memang konsekwensi sebuah dubbing film.

Dubbing memang memudahkan orang untuk menikmati tayangan yang tidak kita mengerti bahasa yang digunakan. Namun, dubbing juga menyebalkan tatkala di bagian bawah layar juga masih ada subtitle yang menjerjemahkan tiap perkataan yang dilontarkan oleh pemain. Akan lebih baik kiranya jika sebuah film yang menggunakan sub-title tidak menggunakan dubbing. Gunakan saja bahasa aslinya. Bukankah bahasa Prancis juga sebaiknya kita kenal?

Saya coba membandingkannya dengan film Mandarin yang juga diputar pada jam yang sama dengan filmnya Sophie itu di CTV. Film itu masih menggunakan bahasa aslinya, bahasa Mandarin dan sub-title disediakan. Saya pikir ini lebih asyik, khan? Bukankah DepKomInfo juga tidak melarang tayangan berbahasa selain bahasa Indonesia dan Inggris? Beberapa film India juga sekarang sudah ber-nehi-nehi, tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia yang justru tampak kaku, khan?

Ya, saya lebih suka yang asli daripada yang menggunakan dubbing. Sementara film itu diputar, saya sudah terbawa mimpi dan televisi secara otomatis mati dengan sendirinya sebelum tengah malam tadi.

Anda lebih suka yang asli, bukan begitu sodara-sodara?

Be the first to like this post.

Comments»

1. aldi - August 30, 2006

ya! saya juga suka yang asli!
sebagus apapun filemnya, kalo udah kena dubbing, pasti saya ngga tonton …

2. idban - August 30, 2006

begitu juga yang terjadi pada anime :(
makanya gw lebih suka download daripada beli yang ori tapi dubbingan atau nonton ditv.
udah telat didub lagi :(

3. Tabah Budi - August 30, 2006

Kalau pakai bahasa asli + sub-title, sekalian bisa belajar bahasa asing (lumayan kan…).

4. didats - August 30, 2006

udah liat sinetron di dubbing blom?
udah sinetronnya sucks, ditambah di dubbing…
makin sucks…

kekeke…

5. andriansah - August 30, 2006

saya lebih suka baca teks

6. Ben - August 30, 2006

sudah gitu teks terjemahannya sempat kacau :(

7. arjuna - August 30, 2006

#4 : HARE GENEEEEEEEE NONTON SINETRON???

*kepslok kepencet*

8. IMW - August 30, 2006

Di TV Jerman, semua film di dubbing. Kecuali nonton ARTE kalau film Prancis ya asli bahasa Prancis. Film Hollywood, Bolywood semua jadi berbahasa Jerman. Oh ya pas film Ada Apa Cinta di Arte, untungnya tetap bahasa Indonesia. Bayangkan ngeliat Jacky Chan, Sharukh Khan, Sean Connery, berbahasa Jerman. Hilang deh kenikmatannya.

Orang Jerman ? Lebih suka didubbing daripada harus baca subtitle, maklum ndak biasa multi-tasking mereka. Kadang nonton TV pun harus serius sekali, ndak bisa diganggu ngobrol. Untungnya di kota saya ada gedung bioskop yang kadang memutar film dalam bahasa aslinya, (untuk film-film tertentu)

9. endah - August 30, 2006

Tau kenapa kalo nonton film+baca subtitle bikin puyeng? karena kita sekedar manusia biasa. film dan subtitle mengakibatkan split attention, dan karena working memory kita terbatas, informasi dari dua sumber yg masuk secara simultan ke working memory, mengakibatkan working memory over-load. kalo working memory over load, working memory tdk dapat mengorganisasikan informasi yg masuk, apalagi mengintegrasikan dg pengetahuan yg sudah kita miliki di long term memory. Akibatnya, puyeng, enggak dong atau ketiduran.

kira-kira begitu.

10. S Setiawan - August 30, 2006

Tanpa dubbing lebih asoy :P

Kalo denger film di-dub bawannya frustasi, males nonton. Lebih frustasi lagi kalo ngga kena dubbing, tapi subtitelnya ngaco, dan bahasa aslinya gw ngga kenal. Wakakaka.. :P

11. farahPutri - August 31, 2006

Bener2.. kemaren aku juga nonton..keren ya!tapi bete..film prancis kan lebih bagus pake bahasa aslinya..lebih sexieh getuh..hehehe..

Paling parah waktu Taxi diputer di rcti..dubbing pake bahasa indonesia!!norce..

btw, pemeran prianya tuh kemaren sama kayak yang maen taxi bukan sih?? ganteng,loh..hehehe(kalaau ada yang tau,kasi tau ya..makasiii..)

12. Hedi - August 31, 2006

Kalo buat sampeyan yg masih seneng suara asli, bisa dibilang beruntung. Soalnya, di Eropa, hampir semua negara menggunakan dubbing (termasuk film berbahasa Inggris). Katanya sih demi keamanan identitas budaya setempat :)

13. IMW - August 31, 2006

#9 Model itu bila kita asumsikan bahwa otak kita adalah serial processor bukan paralel processor. Pada kenyataan bila dilatih maka otak kita bisa memiliki kemampua pengolahan secara parelel sehinga alur dari sensory-perception bisa dilakukan secara paralel

Lha di Jakarta aja banyak orang bisa naik motor sembari ngetik SMS :-)

14. daniel - August 31, 2006

Kalo cowok wajar nggak bisa multitasking?
Kalo cewek? Nonton film+subtitle+ngobrol+masak aja bisa :p

15. endah - August 31, 2006

#13 #14
multitasking sangat mungkin terjadi jika knowledge yg berkaitan dg task tsb sudah bekerja secara otomatis di processor kita. bekerja otomatis maksudnya dapat di-retrieve scr effortless dari long term memory ke working memory utk diintegrasikan dg task yg baru diterima.

jika sso memiliki a huge knowledge automation, working memorynya menjadi tidak terbatas, dkl dia mampu memproses banyak informasi scr simultan/paralel.

namun, knowledge automation hanya dimiliki oleh sso yg sudah ‘ahli’ (bukan pemula) di task tsb. Seorang pengguna HP pemula/sopir pemula akan over-burden jika disuruh sms+nyetir+ngobrol, misalnya, karena sekali lagi working memory-nya terbatas.
demikian juga nonton film bhs asing+baca subtitle.

16. endah - August 31, 2006

ada yg kurang nih.

knowledge automation bisa terjadi jika knowledge tsb mempunyai struktur yg kokoh di long term memory. utk membangun knowledge building yg kokoh, sso harus mempelajari knowledge tsb dgn meaningful, pengulangan dan penguatan.

#13
model working memory selalu bekerja secara serial bagi novice learner in a domain (kapasitas WM terbatas) dan selalu dpt bekerja scr simultan utk more knowledgeable learner in the domain (kapasitas WM tdk terbatas).

wah kalo diterusin lagi bs jadi essay nih… hehe…
Om Puji, sorry yo… komenku panjang bgt. sekalian meng-otomatis-kan teori ini di WM-ku. hehe…

17. Donny - August 31, 2006

Yup!! Yang Asli lebih enak ditelinga dan mata, tentu saja..

saya juga nonton semalam…dan, Ya Ampun!! Kenapa harus di-dubbing sih…??

18. Xunam - September 1, 2006

Saya pilih no Dubbing, karena membuat kita terbiasa mendengar bahasa2 asing,

Jaman dulu nonton sesame street (di RCTI kalo ga salah)aja bisa jago bahasa inggris. :P

19. Muhammad Abduh Abbas - June 7, 2007

Film Asing yang di dubbing dengan bahasa setempat itu merupakan sebuah karya yang memberikan warna budaya setempat. Asal tidak malah menghancurkan/merusak nilai estetis dari film aslinya yang dibuat. Seperti halnya dibeberapa negara lain juga melakukan dubbing untuk film2 yang di import. Apalagi saya sebagai insan film yang bekerja dilingkungan TV lokal Jawa Timur alias JTV “Satus Persen Jatim” dengan semangat budaya Jawa Timurannya telah menyuguhkan Film Holywood,Bollywood dan Mandarin dengan Boso Suroboyoan yang terbaik sebagai tontonan Wong Jawa Timur. Maka cara demikianlah, saya bisa melestarikan budaya Jawa Timur khususnya logat/dialek Suroboyoan yang unik.

20. Djay_RX - June 7, 2007

Lebih pilih yg ga di dubbing lah jelas

Kalo soal multi task begitu
Gw juga ga suka ama AXN yg makin lama makin banyak acara yg ada text Indo nya
Maksudnya sekalian belajar dengerin Bahasa Inggris… walo cuma sekilas keliatan text, membaca dah otomatis, mau gak mau kebaca….
Yaudah terpaksa baca text, drpd ga dapet inti acaranya gara2 pusing multi tasking itu….

21. vampire_surfer - June 19, 2007

kalo gw suka nonton online lewat indowebster.com

22. Djay_RX - June 20, 2007

Suka nonton ato promosi ??
Hehe.. peace

23. zulkifli - October 22, 2007

Karena saya seorang tunanetra, tentunya saya lebih suka tayangan yang di-dubbing. Tapi saya juga tetap berusaha untuk menikmati sebuah film dalam bahasa aslinya.

Itu sebabnya saya kuliah di jurusan Bahasa Inggris dan belajar Bahasa Jepang. Saya suka kok menyewa VCD anime atau film-film Barat.

24. rita - October 10, 2008

Saya rita, saya juga suka sekali dgn film-film luar apa lagi yang isinya tentang yang fiksi-fiksi, saya juga setuju kalau film luar berbahasa asli, soalnya itung-itung belajar kan?
tapi menurut mamah saya lebih praktis pake dubbing habis mamah saya males baca, hehe
makasih ya uda ngedubbing


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>