jump to navigation

Nasib Tyson itu August 31, 2006

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
trackback

Benarkah tinju adalah olahraga manusia beradab?

Membaca artikel di Sports Illustrated tentang nasib Mike Tyson saya jadi semakin yakin bahwa tinju bukanlah olahraga manusia yang beradab. Dulu, ketika dia masih muda, Trevor Berbick dibuat terjengkang dan harus menyerahkan sabuk juara dunia kelas beratnya. Juara dunia kelas berat termuda pun akhirnya disematkan kepada anak badung asal Brooklyn itu. Bukan hanya Berbick saja yang dibuat lunglai di atas ring. James ‘Bonecrusher’ Smith pun dibuat terbirit-birit menghindari jotosan anak muda berumur 20 tahunan itu. Si Penghancur Tulang itu tampak seperti bukan seorang petinju selama pertandingan karena berputar-putar terus untuk menghindari jotosan Tyson.

Berturut-turut petinju besar seperti Pinklon Thomas, Toby Tucker, Tyrell Biggs, Larry Holmes, Tony Tubbs, Michael Spinks, Frank Bruno, Carl Williams dibantai habis oleh Tyson.

Tyson baru kena batunya ketika menghadapi James Douglas di Jepang. Dia terjengkang KO di ronde ke 10.

Pelan namun pasti Tyson kembali. Henry Tillman, Alex Stewart, Donnovan Ruddock, Peter McNeely, Bister Mathis Jr., Frank Bruno, dan Bruce Sheldon, pun kembali dibabat.

Sayangnya, pada partai revans melawan Holifield, Tyson bertindak bodoh. Kuping lawannya digigit hingga putus. Dia didiskualifikasi. Pada pertandingan ulangannya pun Tyson kalah lagi. Mulailah masa jayanya memudar. Tapi, dia masih mempunyai kekuatan untuk membantai Francois Botha, Orlin Norris, Julius Francis, dan Lou Savarese. Kembali Tyson bertindak bodoh ketika menghadapi Andrew Golota. Meski Golota takluk di ronde pertama namun ternyata Tyson terbukti menggunakan marijuana. Goblok banget, khan?

Masa suram benar-benar berada di depan mata Tyson. Dia hanya menang melawan Brian Nielsen dan Clifford Etienne, petinju kelas teri yang tidak terkenal. Saat yang dihadapi adalah Lennox Lewis dan Danny Williams, Tyson tidak berdaya. Dia kalah KO. Bahkan ketika melawan Kevin McBride pun dia seperti sansak saja, dipukul tak berdaya pada ronde ke enam. Benar-benar akhir yang tragis.

Awalnya Tyson adalah monster yang ditakuti semua lawannya. Dia bisa mencetak $35 juta sekali naik ring. Pundi-pundinya terisi $300 juta. Mobil mewah, mansion super lux pernah dimilikinya. Tapi itu dulu. Dulu ketika dia menjadi monster.

Sekarang, seperti ditulis oleh SI, Tyson hanyalah sebuah pajangan di hotel Alladin di Las Vegas. Dia dipajang sebagai tontonan. Memang tanpaknya dia sedang berlatih. Tapi, berlatih apa? Nggak jelas. Banyak orang yang memperhatikannya, namun lebih banyak lagi yang cuek dengan aksinya itu. Ya, inilah kerjaannya sekarang untuk menutup utangnya yang jutaan dollar.

“Hidup,” katanya,”telah banyak berubah.” Kasihan sekali.

Saya jadi ingat dengan Ellyas Pical, petinju kita yang juga hidupnya tidak enak setelah tenaganya habis. Belakangan dia malah tersangkut kasus narkoba, khan? Juga Muhammad Ali yang terkena penyakit parkinsons itu. Ah, kenapa masih ada juga tinju, sih? Benarkah tinju adalah olahraga?

Be the first to like this post.

Comments»

1. Andry - August 31, 2006

Apa biliard juga olahraga?
Bowling? Catur?

Permainan yang bisa dikompetisikan kali ya.

Hipotesa saya (halah halah), tinju disuka karena bentuk penyaluran kompetisi masing-masing orang, khususnya pria, berbeda.

Saya sendiri ndak suka tinju, lebih suka biliard. Setidaknya, kuping saya aman :D

2. Donny - August 31, 2006

Latar belakang petinju kan mayoritas -kalau tidak bisa dikatakan semua- anak2 jalanan yang brutal dan liar. Dan tinju, setidaknya bisa memberikan apa yang mereka inginkan…popularitas, uang, wanita dan memukul orang sepuasnya…heu heu heu…bahkan jika pada akhirnya mereka harus mati sekalipun…mungkin!!

3. zain - August 31, 2006

banyak juga yg baik2 saja.

4. husni - August 31, 2006

Wah hari gini ada MMA lho! Pride, K-1, UFC. Sangar-sangar, Om.

5. Hedi - September 1, 2006

Tinju itu kan kelanjutan dari zaman Romawi, Gladiator. Cuma, dibanding Gladiator, tinju agak beradab karena bertanding ga sampai mampus :)

6. hananto.swasono - September 1, 2006

>>>Pelan namun pasti Tyson kembali. Henry Tillman, >>>Alex Stewart, Donnovan Ruddock, Peter McNeely, >>>Bister Mathis Jr., Frank Bruno, Bruce Sheldon, >>>dan Evander Holyfield pun kembali dibabat.

Mas, mohon koreksi, rasanya setelah kembali lagi, si Tyson kalah sama Evander Holyfield deh… trus begitu tarung ulang, baru deh kejadian gigit kuping. Rasanya pernyataan diatas perlu dikoreksi.

7. Bayu R - September 1, 2006

Cuma mau tambahin kalau Tyson mulai kehilangan arah setelah Cus D’Amato meninggal. Cus D’Amato adalah seorang figur ayah bagi Tyson.

Tyson mulai berantakan tanpa Cus, ditambah masalah perceraiannya. Walaupun masih memenangkan pertandingan, tapi kehancurannya sudah terlihat.

Waktu nonton dokumenter tentang Tyson. Salah seorang yg dekat dengan Tyson (lupa namanya) bercerita bahwa Tyson dengan Cus adalah seorang manusia yang baik, benar2 bukan seorang yang emosional seperti saat ini.

8. jalansutera - September 1, 2006

# 6, ya benar Anda, Hananto. Holyfield memang mengalahkan Tyson. Saya yang salah. Anda benar.

#7, D’Amato meninggal pada November 4, 1985. Padahal Tyson meraih gelar juara setelah pelatihnya itu meninggal.

9. Bayu R - September 1, 2006

Masih meraih gelar juara. Tapi Tyson sebagai seorang manusia mulai hancur.

10. Nofie - September 1, 2006

Menurut saya, atlet pun punya semacam “product life cycle” sendiri-sendiri. Dan umumnya, PLC yang dimiliki seorang atlet relatif pendek. Misalnya, buat pemain bola, masa PLCnya antara 18-32 tahun. Kalau pemain basket, bisa sampai 38 tahun.

Masalahnya sekarang tinggal bagaimana sang atlet menyiasati PLCnya masing-masing. Kalau cerdik, tentu akan mempersiapkan diri sejak dini untuk menghadapi masa pensiunnya nanti.

Sayangnya, kebanyakan atlet (di luar negeri sekalipun), sering lalai memperhatikan PLCnya. Terutama ketika mereka menginjak masa kejayaannya. Beberapa yang cukup sukses mengelola PLCnya mungkin Michael Jordan atau Rudy Hartono.

Oiya, soal PLC ini nggak melulu tentang duit/materi lho. Bisa juga soal kondisi fisik, spiritual, mental, dan seterusnya.

11. paman tyo - September 1, 2006

teman saya bilang, tinju itu olahraga biadab. taufiq ismail ingat pesan neneknya, jangan sekali-kali kau mengadu binatang.

bagi saya tinju dan sejenisnya adalah pelembagaan dorongan purbawi. kadang menarik ditonton, tapi seringkali tidak. saya pernah memotret kick boxing di pinggir ring. cipratan keringat si aduan mengenai filter lensa saya dan wajah saya. teriakan penoton di belakang saya seolah2 berbunyi “bunuh! bunuh” atau “bantai! bantai!”

adapun hari tua atlet indonesia, kayaknya sih bukan cuma dari tinju saja yang muram nasibnya.

12. e viable - September 2, 2006

ya nasip sebuah profesi, bukan tinju aja tapi disetiap bidang profesi punya persamaan.., inti gimana mengelola hidup lebih baik

http://www.eviable.blogspot.com

13. Anang - September 2, 2006

Tinju bukan merupakan sebuah olahraga. Tinju adalah ajang perkelahian. Namun ada fasilitator dan dikemas sedemikian rupa sehingga menyerupai olahraga dengan menempatkan satu petinju di peringkat satu…

14. mbah dipo - September 4, 2006

daripada tinju, mending tenaganya disalurkan buat macul. mbantu petani yang gak kuat beli traktor.. teknologi tepat guna.. :D

15. dhitos - September 21, 2006

kok aku jadi inget nonton orang adu ayam.. tapi tayangan smackdown banyak penggemarnya lho.. kenapa ya?

16. tinju - June 16, 2007

ini bukan tentang beradab atau tidak, tapi apakah orang menyukainya dan mendatangkan uang dan penghidupan bagi sebagian orang

hidup ini keras, dan itulah inti tinju

btw blog nya bgus banget ya saya jadi suka mampir kesini lagi, domainnya juga unik

17. Djay_RX - June 17, 2007

Olahraga, ya tinju itu olahraga, mengeluarkan keringat, bikin capek

Gw ga suka tinju (yg tinju beneran rebut sabuk macem Tyson ini, tapi suka The Contender, soalnya cara pengekspresiannya bagus)

Kalo masalah yg lain2 itu masalah ke personal petinju nya aja

Paling gak lebih sebagai olahraga drpd golf ama catur

18. Sandy - March 18, 2008

Coba deh baca Komik Hajime No Ippo donlot disini deh http://jcafe.vnmanga.com/download/index.php
ntar pasti mengerti kenapa banyak orang berolahraga tinju atau gemar nonton tinju ;)

Kalau mnrt gua, olahraga tinju adalah olahraga yang paling disiplin, jangan lihat saat pertandingannya saja, tapi lihat juga persiapannya juga, mereka harus terus berlatih, tiap hari hrs berlari, diet ketat (agar tidak pindah kelas), dan terpaan mental. kalau gak disiplin mending ikut olah raga catur aja deh, keringatan juga kok maen catur.. keringat dingin sih kalau rajanya hampir2 mati hahaha

tp sy setuju tinju adalah olah raga keras, satu2nya olah raga yg menjadikan kepala sebagai target pukulan (tnp pelindung kepala pulak). kalau gak bisa disiplin untuk berlatih mendingan jangan ikut olah raga ini secara cuma ngancurin badan sendiri :p

hehe telat banget ngasih komentarnya hehe


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>