jump to navigation

Open Submission di Merdeka itu July 31, 2007

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
8 comments

Saya termasuk blogger yang beruntung. Kenapa? Karena saya bisa bergabung di dua agregator sekaligus, yaitu Planet Terasi dan Merdeka. Dua-duanya punya anggota yang aktif, punya blogger yang mumpuni.

Dulu, saya bergabung dengan ke Planet Terasi dengan cara mengirimkan email ke administratornya, Ronny Haryanto. Untunglah dia orangnya baik hati sehingga tanpa menunggu lama, lema blog saya sudah nongol di agregator itu. Thanks, Ron.

Kemudian muncul Merdeka. Gimana cara saya bergabung? Berbeda dengan di Planet Terasi yang (mungkin) belum pernah melakukan ‘open submission’, Merdeka waktu itu mengadakan pendaftaran blogger-blogger yang ingin bergabung. Saya waktu itu sempat mendaftarkan. Sampai lamaaaaa sekali pendaftaran ini tidak menghasilkan munculnya lema saya di agregator itu. Ternyata, adminnya sibuk. Hihihi…

Nah, sekarang, konon, Merdeka akan segera membuka pendaftaran baru. Ya, istilah kerennya ‘open submission’ itu. Mengenai waktu, syarat dan ketentuannya, silakan rajin-rajin saja tengok situs itu, atau tengok situs ini. Siapa tahu ada orang yang berkompeten komen di sini. Pasti nanti ada penjelasannya.

Eh, apa untungnya gabung ke agregator? Ya, paling tidak jumlah pembaca blogmu akan bertambah, moga-moga pagerank juga naik, nambah temen, dan nggak jadi blogger males yang gak pernah ngurusin blognya. Kek siapa? Hihihi… jadi maluw…

Batas Kerja dan Bermain itu July 24, 2007

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
10 comments

Batas antara bekerja dan bermain sangat tipis.

Manusia, kata ahli filsafat adalah ‘homo ludens’ sekaligus ‘homo faber’. Artinya, selain sebagai mahluk yang suka bermain, manusia juga adalah manusia yang bekerja. Lihat saja foto-foto di bawah ini, batas antara bermain dan bekerja ternyata sangat tipis, ya…

Saya kadang merasa kasihan kepada orang yang suasana kerjanya sangat serius. Tidak ada canda, tidak ada tawa. Bikin bete…

Foto di bawah ini mungkin dibuat oleh orang sambil bermain-main. Tapi, bisa jadi orang yang membuat benar-benar serius. Apapun, hargailah pekerjaan orang lain…




(more…)

Derek Liar Polda Metro itu July 24, 2007

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
13 comments

Benarkah Polda Metro mempunyai jasa derek yang memeras?

Ini pengalaman pahit di jalanan Jakarta. Siang itu saya mengendarai mobil kantor dari arah Semanggi menuju ke arah Thamrin. Lalu lintas memang agak sesak karena 3-in-1 baru saja dibuka. Dasar lagi sedang sial, ketika berada di depan Hotel Sahid, tiba-tiba mesin mobil agak ngadat. Bingung juga sih karena terus terang saya tidak begitu paham dengan mesin mobil kantor ini. Apalagi kendaraan-kendaraan yang berada di belakang saya terus menerus membunyikan klakson dengan keras. Utunglah saya bisa sedikit meminggirkan kendaraan dekat ke trotoar.

Hal pertama yang saya lakukan setelah meminggirkan kendaraan adalah telepon ke kantor. Saya minta dikirim seorang dari bagian umum untuk membantu kendaraan yang mogok ini. Sial! Orang bagian umum tidak ada di tempat. Akhirnya saya hanya meninggalkan pesan ke teman lain di kantor. Bingung juga sih saat itu karena hari mulai panas dan posisi mobil saya ternyata juga agak mengganggu lalu lintas.

Tidak berapa lama kemudian, ada sebuah mobil derek dengan tulisan “Mobil Derek Polda Metro” yang berhenti tepat di depan mobil yang mogok ini. Tampang pengemudinya sangar. Bertiga mereka langsung menurunkan rantai untuk menderek mobil saya. Saya keluar dari mobil untuk mencegah mereka. Saya bilang bahwa derek dari kantor sudah saya pesan dan dalam perjalanan. Tapi mereka tidak percaya. Mereka bilang bahwa mobil saya mengganggu lalu lintas dan saya bisa ditilang polisi. Saya jawab bahwa saya lebih baik ditilang daripada diderek oleh mereka. Saya tahu bahwa mereka adalah mobil derek liar yang akan memeras. Mereka tetap bersikeras untuk menderek mobil itu. Beberapa kali saya harus bersuara keras di jalanan umum untuk mencegah mereka memasang kait ke mobil. Dengan tampang penjahat, mereka tetap memaksanya.

Akhirnya, jurus terakhir saya lepaskan. Saya keluarkan kartu karyawan saya. Ya, saya memang bekerja di perusahaan media massa. Ini bukan kartu pers memang, ini kartu presensi karyawan pada umumnya. Tapi cukuplah untuk membuat pemeras seperti mereka keder. Saya bilang bahwa saya akan mecatat nomor mobil derek mereka dan menyiarkannya di media massa jika mereka memaksa untuk menderek. Ternyata mereka cemen juga. Tahu bahwa saya berasal dari perusahaan media massa, seketika itu juga mereka diam dan akhirnya pergi meninggalkan saya sendirian.

Saya cukup beruntung mempunyai keberanian untuk melawan mereka karena saya mempunyai “senjata” untuk menakut-nakuti mereka. Tapi, apa jadinya jika yang mengalami mobil mogok adalah seorang ibu atau anak ABG? Saya tidak tahu. Coba simak pengalaman seseorang yang dikirimkan ke suratkabar ibukota kemarin:

Mobil Derek Berlabel Polda Metro Memeras Pengemudi

Sopir saya punya pengalaman pahit diperas oleh oknum sopir mobil derek berlabel Derek Polda Metro Jaya yang tertera pada badan mobil itu. Kejadian bermula dari pick-up yang dikemudikan sopir saya mogok di jalur lambat Tol Kebon Jeruk, Jakarta Barat, ke arah Tangerang, sekitar 300 meter setelah Pintu Tol Kebon Jeruk, pada tanggal 3 Juli 2007 sekitar pukul 10.00 WIB.

Begitu mobil pick-up berhenti dan sopir turun, tiba-tiba derek tersebut datang, seolah menguntit dari belakang dan langsung memasang derekan walaupun sudah ditolak sopir saya karena belum sempat memeriksa penyebab mobil mogok. Bahkan terjadi tindak kekerasan, leher sopir dicekik dan dipepetkan ke mobil, seperti kejadian di film, mau dirampok. Sopir saya sampai berteriak-teriak minta tolong kepada orang-orang yang lewat di pinggir jalan arteri. Jari tangan sopir dijepit dengan kap mesin karena menolak mobil yang dikemudikannya diderek.

Kemudian mobil dipaksa untuk diderek, yang berputar balik ke markas mereka di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Setibanya di sana sopir saya diperas agar segera membayar Rp 400.000 atas jasa derek. Mana mungkin uang sebesar itu bisa dipenuhi seorang sopir, yang hanya mengantongi uang makan dan uang tol? Bagaimana kejadian yang bejat begitu bisa terjadi pada siang bolong dan di jalan tol yang sedang ramai-ramainya?

Mohon perhatian pihak terkait, apakah Jasa Marga atau Polda Metro Jaya, seperti label pada mobil derek berpelat nomor B 8933 XV dan berawak lima orang, yang harus bertanggung jawab terhadap kejadian ini? Bukankah ini sama saja dengan mencoreng muka instansi terkait? Peristiwa tersebut sudah tergolong perampokan pada siang bolong di jalan tol. Saya masih menyimpan bukti pembayaran berlogo Koperasi Pemilik Armada Derek (Kopader)

Henwizar Cakung,
Jakarta Timur

Setahu saya, mobil derek seperti ini mempunyai markas di daerah Slipi, di pertigaan Raja Buah. Di sanalah mereka tiap hari memantau lalu lintas. Jika ada mobil yang mogok, mereka akan meluncur untuk memaksa menderek mobil itu dan kemudian memerasnya. Benar-benar keterlaluan!

Punya pengalaman mobil mogok di jalan dan diperas? Cerita dong…

Telepon Sahabat Anak 129 itu July 23, 2007

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
8 comments

Ngobrol tentang anak di nomor telepon 129

phone

Kejadian ini sebenarnya sudah lama berlalu. Tapi, kalau ingat, saya jadi kasihan kepada keponakan saya yang satu itu. Ceritanya, saya mempunyai kewajiban untuk membayar billing telepon ketika masih numpang di rumah kakak perempuan saya. Nah, suatu hari ternyata kedapatan bahwa billing telepon melonjak sampai enam kali lipat. Wah, apa mau dikata, billing harus tetap dibayar. Namun, saya melakukan investigasi dengan meminta print-out rincian panggilan telepon pada bulan yang bersangkutan. Benar juga, ternyata ada sekitar lima atau enam kali panggilan ke nomor premium 0809. Jika dijumlah, total panggilan itu bisa mencapai lebih dari dua jam!

Semua orang di rumah akhirnya ditanya satu per satu, dimulai dari yang paling dewasa sampai yang paling kecil. Awalnya, tidak ada yang mengiyakan bahwa ada orang yang menggunakan telepon rumah untuk menelepon ke jaringan premium yang harga pulsanya setinggi langit. Tapi, dilihat dari tanggal dan jam terjadinya kontak telepon, kami berkesimpulan bahwa ada dua orang yang patut dicurigai. Pertama adalah pembantu kami, kedua adalah keponakanku yang paling kecil. Pembantu kami akhirnya lolos dari praduga karena dia hanyalah seorang yang sudah cukup berumur, lagipula orangnya gaptek. Nah, kecurigaan terbesar jatuh kepada si Sandy, keponakan yang saat itu baru kelas dua SD.

Kakak saya akhirnya bisa membongkar semuanya setelah si kecil diinterogasi di kamar. Sambil sesenggukan, Sandy akhirnya mengaku bahwa dialah yang melakukan panggilan ke 0809 itu. “Habis Sandy bete sih di rumah, nggak ada teman,” begitu kurang lebih alasannya. Darimana dia tahu nomor 0809 itu? “Dari iklan di TV,” katanya, lugu. Terus apa yang diomongin di jalur itu? “Sandy cuma curhat saja kok sama orang di sono,” katanya lagi.

Kami yang di rumah akhirnya tidak jadi marah. Jawabannya terlalu lugu untuk dibalas dengan hukuman. Saya justru iba terhadap anak kecil yang sedemikian betenya hingga akhirnya dia melampiaskannya dengan cara menelepon ke 0809. Untunglah jalur yang dihubunginya bukan jalur dewasa. Huh, untunglah bulan-bulan berikutnya tidak ada lagi panggilan ke nomor 0809 itu.

Kejadian seperti itu kini bisa ditanggulangi karena sekarang ada TESA atau telepon sahabat anak. Nomor telepon yang digunakan adalah 129. Pulsa yang dipakai adalah pulsa lokal. Di jalur ini anak-anak bisa nelpon dan dilayani oleh konsultan dari Depkominfo, Depsos dan Kementrian Pemberdayaan Perempuan. Orang tua juga bisa telepon ke nomor ini jika membutuhkan konsultasi tentang anak mereka.

Ada yang sudah coba menelpon ke 129? Coba deh, pulsa lokal kok, nggak bakal bikin kantong jebol lah… Selamat hari anak Indonesia.

Gampar Penjahat itu July 22, 2007

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
17 comments

Menangkap penjahat dan teroris memang tidak cukup hanya dengan himbauan dan doa saja. Gampar dan tembak jika perlu!

gunawan

Jumat kemarin kita disuguhi aksi “reality show” yang sangat menarik lewat layar kaca. Lokasinya juga bagus sekali, Plaza Senayan. Episode kali ini adalah tertangkapnya seorang buronan oleh satuan pengamanan dan polisi preman. Ya, seorang penjahat yang sudah berkali-kali berhasil lolos dari jeratan hukum “dikeroyok” oleh empat atau lima orang.

Si penjahat tentu saja berontak meskipun dia sudah diborgol. Polisi nampaknya tidak sabar dengan keadaan ini. Maka, melayanglah sebuah tamparan ke wajah penjahat. “Plokk….” begitu sebuh tamparan mendarat di pipi sang penjahat. “Penonton” yang menyaksikan aksi polisi ini ada yang bersorak.

Ini memang tugas polisi untuk menangkap orang-orang jahat, termasuk teroris. Menangkap mereka memang tidak perlu dengan belas kasih. Kalau memang sang penjahat itu harus digampar, ya pukul saja biar mampus. Daripada mereka dibiarkan berada di luar jeruji penjara dan membuat resah masyarakat. Lah, apakah memukul penjahat, menembak kaki teroris seperti yang pernah dilakukan oleh polisi beberapa waktu yang lalu tidak melanggar hak asasi manusia? Jawaban pertanyaan ini pasti sama dengan pertanyaan: Apakah tingkah laku penjahat dan teroris yang mencabut nyawa orang lain tidak melanggar hak asasi manusia?

Jika proses penangkapan penjahat dan teroris hanya cukup dengan doa dan himbauan saja, saya pikir tidak perlu ada orang yang sakit lagi. Tapi nyatanya polisi harus bekerja ekstra keras untuk menangkap teroris. Jadi, mari kita gampar saja teroris dan penjahat.

Tiga Plugins Firefox yang I can’t Live Without itu July 20, 2007

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
9 comments

Ini dia tiga plugins extensions canggih yang musti diinstal oleh semua blogger.

ff

Meskipun di komputer saya ada tiga piranti perambah, saya paling sering menggunakan Firefox. IE sudah sering sekali dianggurin. Padahal dulu browser ini tiap hari dipakai. Sedangkan Opera sesekali masih dipake juga. Tapi itupun paling hanya sekali seminggu saja. Nggak lebih, nggak kurang.

Kenapa saya lebih suka pake si Rubah Api? Hmm… mungkin karena ada fasilitas plugins extensions, kali, ya? Ya, plugins extensions memang membuat Rubah Api menjadi lebih panas, lebih bertenaga, lebih fungsional. Halah, apa pula itu. Di browser ini saya memasang lebih dari lima plugins extensions, tapi ada tiga plugins extensions yang paling saya sukai. Tanpa tiga plugins extensions ini, lebih baik saya tidak browsing deh. Tanpa tiga plugins extensions ini, hidup rasanya ada yang kurang. Halah…

Apa sih tiga plugin yang I can’t live without itu?

Pertama, AdBlock. Dengan plugin ini rasanya berselancar di dunia maya menjadi nyaman sekali. Tanpa banner iklan, tanpa iklan TXT, tanpa flash yang lebih banyak memedihkan mata daripa bergunanya. Lho, padahal khan gue orang iklan? Ya, sih. Tapi mo gimana lagi, memang AdBlock sangan berguna sih. Link-nya mana? Cari sendiri lah…

Kedua, ScribeFire. Mau posting blog dengan mudah, tinggal pencet F8. Ada bos lewat, pencet F8 lagi. Bos pergi, pencet F8 lagi. Asyik banget. Sayangnya kecanduan ngeblog saya sudah menurun. Tapi, plugin ini masih berguna, kok. Linknya mannna? Tanya om Google, deh.

Ketiga, FireFTP. Ini sih piranti FTP yang menyatu dalam FF. Plugins extensionsnya kecil, tapi manfaatnya besar. Pokoknya sama dengan software FTP berharga mahal deh. Recommended bagi orang yang suka mengunggah file ke server. Maaf, tanpa link. Silakan cari sendiri..

Eh, ngomong-ngomong, bahasa saya kok kacaw balaw gini. Ah, biarlah. Mumpung sekarang juga Polisi EYD-nya sudah pensiun. Hihihi..

Apa plugins extensions Firefox paporitmu?

Update: judulnya biarin seperti itu saja. Padahal yang dimaksud adalah extension, bukan plugin. Untung belum ada nyang protes. Hihihihi…

Tingkat Kecanduan Blog yang Menurun itu July 13, 2007

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
33 comments

Dulu sih memang kecanduan, sekarang gak lagi. Menurun lah…

kecanduan

Dulu, ketika baru pertama kali ngeblog, saya pernah merasa kecanduan blogging. Hampir tiap hari ngeblog. Ada sesuatu yang sedikit penting, selalu ditulis di blog. Ada sesuatu yang aneh, selalu ditulis di blog. Kalau terlintas ide yang kiranya menarik, langsung bikin blog baru.

Itu dulu, sekarang sih sudah beda.

Sekarang kelihatannya gairah ngeblog sedang menurun, tidak seperti dulu lagi. Kenapa, ya? Mungkin karena sekarang lagi sibuk kerja. Mungkin juga karena ada rasa bosan dalam blogging. Kenapa bosan? Karena sibuk kerja. Uh, muter-muter.

Nah, sekarang seberapa besar kecanduan blog yang saya alami? Ternyata, menurut survey dari Mingle2.com, tingkat kecanduan saya terhadap blogging masih cukup tinggi 68%. Wah, masih di atas 50% rupanya.

Tapi dibandingkan keadaan dulu, saya yakin tingkat ini sudah jauh menurun. Apalagi sekarang saya juga jarang mengisi blog ini, jarang melakukan blogwalking, jarang ngasih komen di blog orang lain, tidak pernah setup blog baru. Kata orang, saya memang tidak mempunyai passion dalam ngeblog.

Seberapa besar tingkat kecanduanmu terhadap blogging?

Baca juga:

The Kojak itu July 12, 2007

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
6 comments

Siapa yang ingat ada film berjudul The Kojak?

kojak

Jaman dulu, ketika televisi baru mempunyai dua warna saja, ada sebuah film detektif yang cukup digandrungi oleh anak-anak. Ketika itu saya masih kecil. Jadi, tidak ada ingatan apapun tentang episode-episode film seri itu. Saya hanya ingat bahwa salah satu pemeran detektif itu adalah seorang yang gagah dengan kepala yang botak, plontos.

Nah, kalau enggak salah dia dipanggil Kojak. Saking terkenalnya nama Kojak ini, ada permen yang disebut permen kojak. Kenapa disebut demikian? Karena permen ini bentuknya plontos, mirip kepala botak. Permen bertangkai ini dulu sangat terkenal sekali. Kini mungkin sudah tidak ada anak kecil yang merengek-rengek minta permen kojak.

Nah, pemeran detektif berkepala gundul ini bernama Telly Savalas yang memerankan Theo Kojak. Orangnya memang macho sih. Badannya tinggi, besar. Berotot juga. Keren lah… Dia adalah seorang detektif kepolisian New York. Dulu film ini sempat diputar oleh TVRI. Penggemarnya bejibun. Posternya juga diperjualbelikan di mana-mana. Buku tulis juga ada yang bersampul si Kojak ini.

Dari nama inilah salah satu seleb Indonesia mengambil nama bekennya. Karena mungkin dia dulu gundul, makanya sang seleb dipanggil sebagai Taufik Savalas.

Kemarin si Kojak Indonesia itu sudah dipanggil Yang Kuasa, tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di Purworejo, Jawa Tengah.