jump to navigation

Petasan October 1, 2007

Posted by JalanSutera.com™ in Blog.
trackback

Kecil-kecil main petasan, sudah gedhe emang mau jadi teroris?

Saya heran mengapa petasan atawa mercon selalu hadir pada saat bulan puasa tiba. Memang sih jumlahnya sekarang lebih sedikit dibanding tahun-tahun yang lalu. Namun, tetap saja ada anak-anak yang bermain petasan usai makan sahur. Padahal, apa sih asyiknya mainan mercon? Ledakan yang ditimbulkan pun seringkali justru tidak dinikmati oleh si penyulut. Biasanya, si penyulut mercon akan menutupi kupingnya saat mercon akan mengeluarkan gelegarnya. Aneh, memang: membeli mercon, menyulut, tapi tidak menikmati ledakannya.

Setiap tahun kita juga membaca atau menonton berita tentang kecelakaan akibat ledakan petasan. Biasanya kecelakaan akibat ledakan mercon memang hanya mengakibatkan cacat saja. Jarang yang sampai tewas. Meski demikian tetap saja ada anak yang mainan mercon.

Anak-anak di perumahan tempat saya tinggal juga bermain petasan usai makan sahur. Mereka biasanya bergerombol. Anak yang akan menyulut petasan memegang sebuah obat nyamuk bakar. Petasan disulut menggunakan bara dari obat nyamuk bakar. Dan… BLARRRR..

Nah, kemarin para krucil ini kena batunya. Mereka bermain-main di depan rumah pak haji yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari rumah saya. Sudah beberapa kali para cecunguk ini meledakkan petasan. Giliran akan menyulut petasan di depan rumah pak haji, mereka kena damprat.

Hey, jangan main petasan di sini. Sono ke lapangan kalo mau main petasan. Masih kecil sudah main petasan, memangnya kalian mau jadi teroris, ya?” hardik pak haji.

Saya hanya tersenyum melihat anak-anak lari tunggang langgang. Sebuah petasan yang belum disulut ditinggalkan anak-anak di dekat selokan di depan rumah pak haji.

“Sabar pak haji, baru mulai puasa jangan marah. Orang sabar itu kekasih Tuhan,” kata saya dalam hati.

Sebuah petasan meledak lagi, entah di mana anak-anak meledakkannya. Yang pasti, tidak di depan rumah pak haji. Saya hanya bisa geleng-geleng saja. Yah, namanya juga masih anak-anak. Moga-moga mereka tidak menjadi teroris. Hahahahaha…

Be the first to like this post.

Comments»

1. anima - October 1, 2007

iya yah, kenapa orang main petasan? buang-buang duit aja

2. ario dipoyono - October 1, 2007

aku tuh heran yah… knapa petasan di larang oleh pemerintah tapi… bahaya yang lebih besar seperti koropsi kok gak di larang

3. didats - October 1, 2007

korelasi antara maen petasan ama teroris gag banyak kali mas.. hihihi…

tapi ada satu yg mengganjal.

kenapa judulnya nggak “petasan itu”

4. ak - October 1, 2007

Memang ada-ada aja anak-anak main petasan itu. Menggangu banget (dan berbahaya juga!).

@Ario:
Sejak kapan korupsi tidak dilarang?

5. jalansutera - October 1, 2007

#3 didats
Keliatan kalo elo jarang ke sinih. Huh…

#2 dan #4
Pengguna petasan bisa dijerat dengan UU Darurat nomor 12/1951, dan Pasal 187 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dengan ancaman hukuman penjara 12 tahun. ada yang mau jadi pembuatan petasan? itu bisa langsung dijerat dengan pasal anti-terorisme. hahahaha… *ada nggak sichh…?*

6. Hedi - October 1, 2007

Waktu kecil saya seneng banget main petasan, mau yang rawit atau yg menggelegar sekalipun. Tapi sekarang saya baru tahu kalo main petasan itu bikin kaget orang.

Soal anak kecil, mereka main petasan karena ada yang jual. Jadi pabriknya harus digerus dulu.

7. maseko - October 1, 2007

Mas, ukuran “sepelemparan batu”-nya itu lemparan Mas Puji, para krucil, atau Pak Haji? :)

8. jalansutera - October 1, 2007

#7 maseko
Waduh, saya sendiri sebenarnya belum pernah melempar rumah pak haji. jadi, pasti bukan sepelemparan batu ukuran saya. nah, pak haji juga belum pernah melempar batu juga ke rumah saya. apalagi dia lagi lemes karena puasa. coba nanti saya tanya ke para krucil deh… hahahaha…

9. Nindya - October 2, 2007

Sampe sekarang saya masih bertanya-tanya, gimana caranya ngegiles orang-orang yang suka main petasan yang notabene mengganggu lingkungan sekitar dan berbahaya buat orang lain. Huh.

Mungkin disebut ‘jadi teroris’ soalnya ga ada kerjaan lain selain ngebom dan bikin ribut kali? Hehe ;)

10. susan - October 3, 2007

Ah..gara-gara ada peristiwa bom-bom di kedubes Aussie, terus di Bali, terus di tempat2 lain di Indo.. Jadinya yg dor-doran diwaspadai, termasuk petasan. padahal petasan itu indah lho..coba deh perhatiin, kalau sinarnya baru keluar terus nyembur ke angkasa..weehhh indah banget cing… Belum lagi kembang api itu, kalau diputar2 atau digantung di ranting2 pohon..wuihh asyik bo.. Hehe..ya itu tentunya mah harus diawasi dengan ketat, jangan sampai ada korban dari ketidaktahuan menggunakan petasan dengan benar…hehehe, semua kalau ditempatkan dg benar.asyik-asyik aja kan… peace ahh

11. jalansutera - October 3, 2007

#10 susan
sebenarnya saya setuju dengan mba susan bahwa mercon atau petasan itu mengasyikkan. tapi, ada waktu dan tempat yang tepat. kalau menyulut petasan di pagi buta di depan rumah pak haji yang baru ngaji, saya pikir ini harus dilarang.

tapi, menyulut mercon sebagai ungkapan selamat datang seperti yang dilakukan oleh masyarakat betawi ketika calon besan datang, ya silakan diteruskan.

atau menyulut petasan kembang api di akhir tahun untuk memeriahkan suasana, saya pikir ini akan memperindah langit saat tahun berganti.

bukan begitu?

12. Tiwi - October 4, 2007

Blog ini diawali dengan “Saya heran mengapa petasan atawa mercon selalu hadir pada saat bulan puasa tiba…”, tp buatku,”Saya sangat tidak heran mengapa petasan .. hadir di bulan puasa.”

Aku dari kampung,dan orang kampung sepertiku sangat mengerti kalau petasan itu kebutuhan di bulan puasa..

Bagi anak2 lelaki kampung yg tidak mengalami perang petasan di masa kecilnya, saya hanya bisa bilang,”kasian amat..”. karena,tradisi petasan di bulan puasa filosofinya sangat dalam.. disitu anak lelaki diuji keberanian berlapis.
yaitu :
1. bagaimana mengatur budget jajan kolak buka puasa dan jajan selepas taraweh dengan membeli bahan peledak
2. bagaimana membeli bahan peledak tanpa sepengetahuan aparat (baik rumah maupun RT)
3. bagaimana menyelenggarakan teknik peledakan petasan yang efektif dan aman (disini nilai2 Safety bagi anak sudah ditanamkan)
4. bagaimana bergerak dengan cepat baik dalam keadaan terang maupun gelap.
5. bagaimana memberi ancaman tanpa harus melukai
6. bagaimana menghadapi resiko di marah ortu dan kakak
7. bagaimana mulai belajar mencoba mencari perhatian (cewek), meski aslinya tak ada cewek seusia yang senang melihat peledak petasan.
8. bagaimana mengasah intuisi tanggap terhadap serangan, dan
9. bahan cerita utk generasi berikutnya.. (sedih juga tanpa bahan cerita dengan generasi berikut)

Jadi, karena saya dari kampung.. dan memang dari kampung,Akan cukup sedih ketika pulang kampung berlebaran tanpa terdengar bunyi2an khas. Mungkin saya akan tertunduk sedih dan menetes air mata perlahan.. “reformasi terlalu banyak membawa perubahan.. mungkinkah anak2 lelaki sekarang memilih banyak berdiam di rumah dan bersolek, karena toh menjadi lebih femimin sekarang ini menjadi suatu pilihan yang lebih baik..”

13. jalansutera - October 4, 2007

#12 Tiwi
nice comment, tiwi.

ada yang punya pendapat sama dengan tiwi ini? sudut pandangnya bagus banget. nyleneh gitu lah…

14. rian - October 8, 2008

Apa ce??
Aq kq g ngerti..

15. xxxHolic - October 8, 2008

Wah maen ptasan it enk yo..
Slaen bsa bkar uang,qta bsa memberi nafkah sma yg jual ptsan..

Tp emank ce bahaya bgt klo maen smbarangan..
Kudu Hati2..

Tp mercon Bumbung kq udh g ad y??

Maaf 4 All

16. AP - September 19, 2009

Sambil ngasih komentar, saya juga lagi dengerin anak anak kecil main petasan di rumah saya. Ngga cuma di Tangerang doang ternyata, tapi hampir di setiap kota. Bingung juga mau ngejelasin anak anak supaya berenti main petasan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>