Comments on: Minal Aidin Wal Faizin yang Tidak ada dalam Budaya Arab http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/ West Meets East Wed, 20 Oct 2010 08:37:20 +0000 hourly 1 http://wordpress.com/ By: Nafis Mudrika http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-22507 Nafis Mudrika Thu, 23 Sep 2010 03:37:57 +0000 http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-22507 Lebaran di indonesia memang antik... he he Lebaran di indonesia memang antik… he he

]]>
By: LATIEEF MADIUN http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-22506 LATIEEF MADIUN Thu, 23 Sep 2010 01:39:09 +0000 http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-22506 YAAA............... INSYA ALLOH SEMUA COMENT ITU TUJUANNYA BAIIIK, YG LBH BAIK LAGI KITA IKRARKAN KPD ALLOH DAN KITA IKHLASKAN HATI KITA UNTUK MENGAMPUNI ORANG-2 YG PERNAH MENDHOLIMI KITA, GITUU.. YAAA…………… INSYA ALLOH SEMUA COMENT ITU
TUJUANNYA BAIIIK, YG LBH BAIK LAGI KITA IKRARKAN KPD ALLOH DAN KITA IKHLASKAN HATI KITA UNTUK MENGAMPUNI ORANG-2 YG PERNAH MENDHOLIMI KITA, GITUU..

]]>
By: aan anderian http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-22289 aan anderian Mon, 13 Sep 2010 07:01:12 +0000 http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-22289 indonesia merdeka.... indonesia merdeka….

]]>
By: joko http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-22239 joko Thu, 09 Sep 2010 11:32:00 +0000 http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-22239 ha'a po'o ws, ben cepet.... ha’a po’o ws, ben cepet….

]]>
By: muhammad dede nasrudin http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-22210 muhammad dede nasrudin Tue, 07 Sep 2010 22:15:30 +0000 http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-22210 wah artikelnya bagus tue bang saya jadi tau artinya. keren keren poko'e top markotop deh artikelnya. klo punya artikel yang bagus share to me ok!!!!!!! wah artikelnya bagus tue bang saya jadi tau artinya.
keren keren poko’e top markotop deh artikelnya.
klo punya artikel yang bagus share to me ok!!!!!!!

]]>
By: Kang Encep http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-22190 Kang Encep Mon, 06 Sep 2010 23:45:58 +0000 http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-22190 ya, pas sekali untuk Indonesia. orang-orang yang kembali (ke kampung halaman) dari orang-orang yang memenangkan pertarungan hidup mencari nafkah (di perantauan). Seringkali saya menyaksikan betapa gembiranya mereka yang akan mudik, riangnya mereka di tengah kemacetan, dan mereka puas bisa berkumpul dengan keluarga. Semoga kita termasuk ke dalam golongan yang bersyukur. ya, pas sekali untuk Indonesia. orang-orang yang kembali (ke kampung halaman) dari orang-orang yang memenangkan pertarungan hidup mencari nafkah (di perantauan). Seringkali saya menyaksikan betapa gembiranya mereka yang akan mudik, riangnya mereka di tengah kemacetan, dan mereka puas bisa berkumpul dengan keluarga. Semoga kita termasuk ke dalam golongan yang bersyukur.

]]>
By: Mustafa Adnani http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-22168 Mustafa Adnani Mon, 06 Sep 2010 05:35:16 +0000 http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-22168 Makin sini dunia ilmu makin terbuka lebar. Bila pada gilirannya setiap kaum muslimin memilki wawasan yg luas, sepertinya pertikaian, saling menyalahkan atau merasa benar sendiri dalam berbagai hal, secara khusus dalam kepahaman (fiqh) atau keyakinan (tauhid) akan makin berkurang. Dalam suatu ta'lim, 10 tahun silam ketika saya membedah ttg ucapan "minal 'Aa-diin waf faaiziin" (sebagaimana yg dibedah sekarang) pernah diprotes jama'ah dgn alasan jangan mengotak-atik sesutu yg sudah berjalan atau terbiasa, dgn dalil "Laa tufsidu fil ardhi ba'-da ishlaahihaa" maksudnya"Jangan bikin kerusakan di bumi (ini) setelah berjalan baik". Terima kasih internet untuk perkembangan ilmu yg bermanfaat. Demikian pula kepada saudara-saudariku kaum Muslimin ygmasih punya masa depan, capailah ilmu-ilmu yg bermanfaat (a.l. ilmu keagamaan/Islam) sebelum saatnya renta. Makin sini dunia ilmu makin terbuka lebar. Bila pada gilirannya setiap kaum muslimin memilki wawasan yg luas, sepertinya pertikaian, saling menyalahkan atau merasa benar sendiri dalam berbagai hal, secara khusus dalam kepahaman (fiqh) atau keyakinan (tauhid) akan makin berkurang. Dalam suatu ta’lim, 10 tahun silam ketika saya membedah ttg ucapan “minal ‘Aa-diin waf faaiziin” (sebagaimana yg dibedah sekarang) pernah diprotes jama’ah dgn alasan jangan mengotak-atik sesutu yg sudah berjalan atau terbiasa, dgn dalil “Laa tufsidu fil ardhi ba’-da ishlaahihaa” maksudnya”Jangan bikin kerusakan di bumi (ini) setelah berjalan baik”. Terima kasih internet untuk perkembangan ilmu yg bermanfaat. Demikian pula kepada saudara-saudariku kaum Muslimin ygmasih punya masa depan, capailah ilmu-ilmu yg bermanfaat (a.l. ilmu keagamaan/Islam) sebelum saatnya renta.

]]>
By: KillBill1 http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-22117 KillBill1 Thu, 02 Sep 2010 06:18:29 +0000 http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-22117 Kalo ngasih nama berbahasa/bernuansa Arab (padahal ada padanan kata Indonesianya) apa termasuk bid'ah juga ya? atau biar dikira beragama Islam kali ya? Kalo ngasih nama berbahasa/bernuansa Arab (padahal ada padanan kata Indonesianya) apa termasuk bid’ah juga ya? atau biar dikira beragama Islam kali ya?

]]>
By: Yusuf Supriadi http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-22041 Yusuf Supriadi Mon, 30 Aug 2010 04:41:18 +0000 http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-22041 Subhanallah, tak terasa sekarang sudah hampir Idul fitri lagi.. mari kita manfaatkan sisa romadhon yang ada untuk maksimal dalam beribadah, semoga kita mendapat kemuliaan lailatul qodr. amin Subhanallah, tak terasa sekarang sudah hampir Idul fitri lagi.. mari kita manfaatkan sisa romadhon yang ada untuk maksimal dalam beribadah, semoga kita mendapat kemuliaan lailatul qodr. amin

]]>
By: satria http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-22025 satria Sun, 29 Aug 2010 09:04:30 +0000 http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-22025 Artikelnya sangat menarik untuk menambah wawasan kita tentang budaya lebaran di Inonesia Artikelnya sangat menarik untuk menambah wawasan kita tentang budaya lebaran di Inonesia

]]>
By: mazhab http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-21179 mazhab Sat, 24 Jul 2010 12:13:21 +0000 http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-21179 arab malaysia( ambank) arab malaysia( ambank)

]]>
By: godi http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-20015 godi Tue, 12 Jan 2010 03:09:20 +0000 http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-20015 Assaalaamu`alaykum wa rahmatullahi wa barokaatuhu. Afwan untuk ukhti Rita untk artikel akhi Taufik Munir, ana ada komentar dengan Makna Almarhum, yang anti artikan sebagai harapan kepada Allah `azza wa jalla agar di rahmati. Sya yakin anta tahu makna Al ma`bud, yaitu yang di sembah. Almarhum maka artinya yang dirahmati. Sya meyakini bahwa Allah merahmati orang2 yang Dia kehendaki saja (tidak semua). Sya sebutkan contoh yg wujud doa/harapan kata jazaakallahu: semoga Allah mmbalasmu. Bagaimana dengan harapan agar di rahmati: cth: Rahimahullah: semoga Allah merohmatinya. Perlu di ketahui, sebutan almarhum sekarang bukan hanya untk muslimin, tapi juga yg menyebutkan untuk org yg telah meninngal dari kaum kuffar. Wallahi, Untuk kaum muslimin saja kita tidak tahu siapa saja yang akan dirahmati Allah. Allahu a`lam Assaalaamu`alaykum wa rahmatullahi wa barokaatuhu.

Afwan untuk ukhti Rita untk artikel akhi Taufik Munir, ana ada komentar dengan Makna Almarhum, yang anti artikan sebagai harapan kepada Allah `azza wa jalla agar di rahmati.
Sya yakin anta tahu makna Al ma`bud, yaitu yang di sembah. Almarhum maka artinya yang dirahmati. Sya meyakini bahwa Allah merahmati orang2 yang Dia kehendaki saja (tidak semua).
Sya sebutkan contoh yg wujud doa/harapan
kata jazaakallahu: semoga Allah mmbalasmu. Bagaimana dengan harapan agar di rahmati: cth: Rahimahullah: semoga Allah merohmatinya.
Perlu di ketahui, sebutan almarhum sekarang bukan hanya untk muslimin, tapi juga yg menyebutkan untuk org yg telah meninngal dari kaum kuffar. Wallahi, Untuk kaum muslimin saja kita tidak tahu siapa saja yang akan dirahmati Allah. Allahu a`lam

]]>
By: Rendy http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-19761 Rendy Fri, 27 Nov 2009 23:12:56 +0000 http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-19761 Oh gitu ya Mas, hehe. Baru tau saya, terima kasih atas informasinya. Juga yang comment pertama. Oh gitu ya Mas, hehe. Baru tau saya, terima kasih atas informasinya. Juga yang comment pertama.

]]>
By: Rita http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-19307 Rita Thu, 15 Oct 2009 15:51:16 +0000 http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-19307 Dari http://religiusta.multiply.com/ Manakah diantara kalimat-kalimat di bawah ini yang benar? * Minal 'aidin wal faizin, mohon maaf lahir-bathin * Mohon maaf lahir-bathin, minal 'aidin wal faizin * Semoga kita dimaafkan minal 'aidin wal faizin * Semoga kita minal 'aidin wal faizin * Semua benar. Kalau kita tadi menyoal tentang asal kata Ied (masdar atau kata dasar dari 'aada=kembali), sekarang kita mencoba untuk membongkar asal kata 'Aidin dan Faizin. Darimana sih mereka? 'Aidin itu isim fa'il (pelaku) dari 'aada. Kalau anda memukul (kata kerja), pasti ada proses "pemukulan" (masdar), juga ada "yang memukul" (anda pelakunya). Kalau kamu "pulang" (kata kerja), berarti kamu "yang pulang" (pelaku). Pelaku dari kata kerja inilah yang dalam bahasa Arab disebut dengan isim fa'il. Kalau si Aidin, darimana? 'Aidin atau 'Aidun itu bentuk jamak (plural) dari 'aid, yang artinya "yang kembali" (isim fa'il. Baca lagi teori di atas). Mungkin maksudnya adalah "kembali kepada fitrah" setelah berjuang dan mujahadah selama sebulan penuh menjalankan puasa. * 'aada = ia telah kembali (fi'il madhi). * Ya'uudu = ia tengah kembali (fi'il mudhori) * 'audat = kembali (kata dasar) * 'ud = kembali kau! (fi'il amr/kata perintah) * 'aid = ia yang kembali (isim fa'il). Kalau si Faizin? Si Faizin juga sama. Dia isim fa'il dari faaza (past tense) yang artinya "sang pemenang". Urutannya seperti ini: * Faaza = ia [telah] menang (past tense) * Yafuuzu = ia [sedang] menang (present tense) * Fauzan = menang (kata dasar). * Fuz = menanglah! (fi'il amr/kata perintah) * Fa'iz = yang menang. 'Aid (yang kembali) dan Fa'iz (yang menang) bisa dijamakkan menjadi 'Aidun dan Fa'izun. Karena didahului "Min" huruf jar, maka Aidun dan Faizun menyelaraskan diri menjadi "Aidin" dan "Faizin". Sehingga lengkapnya "Min Al 'Aidin wa Al Faizin". Biar lebih mudah membacanya, kita biasa menulis dengan "Minal Aidin wal Faizin". Lalu mengapa harus diawali dengan "min"? "Min" artinya "dari". Sebagaimana kita ketahui, kata "min" (dari) biasa digunakan untuk menunjukkan kata keterangan waktu dan tempat. Misalnya 'dari' zuhur hingga ashar. Atau 'dari' Cengkareng sampe Cimone. Selain berarti "dari", Min juga mengandung arti lain. Syekh Ibnu Malik dari Spanyol, dalam syairnya menjelaskan: Ba'id wa bayyin wabtadi fil amkinah # Bi MIN wa qad ta'ti li bad'il azminah Artinya: Maknailah dengan "sebagian", kata penjelas dan permulaan tempat... dengan MIN. Tapi kadang ia untuk menunjukkan permulaan waktu. Dari penjelasan Ibnu Malik di atas, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa MIN pada MIN-al aidin wal faizin tadi menunjukkan kata "sebagian" (lit-tab'idh). Jadi secara harfiyah, minal 'aidin wal-faizin artinya: BAGIAN DARI ORANG-ORANG YANG KEMBALI DAN ORANG-ORANG YANG MENANG. Nah, pusing kan? Tunggu dulu. Sabar, napa. Kalimat di atas adalah kalimat doa. Baik dalam Al-Quran dan Hadis banyak kalimat-kalimat seperti itu yang menunjukkan doa kepada yang bersangkutan. Kita sering menambahi julukan kepada orang yang sudah wafat dengan tambahan "almarhum" yang artinya "yang dirahmati" (terserah orang tersebut rajin sholat atau gak pernah sama sekali). Sebab, itu hanya doa dan pengharapan "semoga ia dirahmati oleh Allah, diberikan kasih sayang-Nya di alam barzakh hingga hari Kiamat". Akan halnya dengan minal 'aidin wal-faizin, ini juga doa: "Semoga anda termasuk (bagian dari) orang-orang yang kembali kepada fitrah kesucian dan termasuk (bagian dari) orang-orang yang mendapatkan kemenangan". Amin. Duh indahnya Islam. Sama orang yang nggak puasa saja, sempet-sempetnya kita doain yang bener. Kesimpulannya? Ya simpulkan saja sendiri. Yang jelas Minal Aidin tidak ada hubungannya dengan Mohon maaf lahir dan bathin. Menggunakan kalimat a, boleh. Memakai kalimat b, silakan saja. Tapi sekali lagi, mohon maaf lahir bathin itu bukan arti minal aidin. Asal jangan memilih c, karena minal aidin tidak pernah bisa memaafkan orang. Tapi pilihan saya adalah d, ini yang paling shahih. Akhirnya, semoga kita minal 'aidin wal faizin. Amin! # Taufik Munir Dari http://religiusta.multiply.com/

Manakah diantara kalimat-kalimat di bawah ini yang benar?

*
Minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir-bathin
*
Mohon maaf lahir-bathin, minal ‘aidin wal faizin
*
Semoga kita dimaafkan minal ‘aidin wal faizin
*
Semoga kita minal ‘aidin wal faizin
*
Semua benar.

Kalau kita tadi menyoal tentang asal kata Ied (masdar atau kata dasar dari ‘aada=kembali), sekarang kita mencoba untuk membongkar asal kata ‘Aidin dan Faizin. Darimana sih mereka?

‘Aidin itu isim fa’il (pelaku) dari ‘aada. Kalau anda memukul (kata kerja), pasti ada proses “pemukulan” (masdar), juga ada “yang memukul” (anda pelakunya). Kalau kamu “pulang” (kata kerja), berarti kamu “yang pulang” (pelaku). Pelaku dari kata kerja inilah yang dalam bahasa Arab disebut dengan isim fa’il.

Kalau si Aidin, darimana? ‘Aidin atau ‘Aidun itu bentuk jamak (plural) dari ‘aid, yang artinya “yang kembali” (isim fa’il. Baca lagi teori di atas). Mungkin maksudnya adalah “kembali kepada fitrah” setelah berjuang dan mujahadah selama sebulan penuh menjalankan puasa.

*
‘aada = ia telah kembali (fi’il madhi).
*
Ya’uudu = ia tengah kembali (fi’il mudhori)
*
‘audat = kembali (kata dasar)
*
‘ud = kembali kau! (fi’il amr/kata perintah)
*
‘aid = ia yang kembali (isim fa’il).

Kalau si Faizin?

Si Faizin juga sama. Dia isim fa’il dari faaza (past tense) yang artinya “sang pemenang”. Urutannya seperti ini:

*
Faaza = ia [telah] menang (past tense)
*
Yafuuzu = ia [sedang] menang (present tense)
*
Fauzan = menang (kata dasar).
*
Fuz = menanglah! (fi’il amr/kata perintah)
*
Fa’iz = yang menang.

‘Aid (yang kembali) dan Fa’iz (yang menang) bisa dijamakkan menjadi ‘Aidun dan Fa’izun. Karena didahului “Min” huruf jar, maka Aidun dan Faizun menyelaraskan diri menjadi “Aidin” dan “Faizin”. Sehingga lengkapnya “Min Al ‘Aidin wa Al Faizin”. Biar lebih mudah membacanya, kita biasa menulis dengan “Minal Aidin wal Faizin”.

Lalu mengapa harus diawali dengan “min”?

“Min” artinya “dari”. Sebagaimana kita ketahui, kata “min” (dari) biasa digunakan untuk menunjukkan kata keterangan waktu dan tempat. Misalnya ‘dari’ zuhur hingga ashar. Atau ‘dari’ Cengkareng sampe Cimone.

Selain berarti “dari”, Min juga mengandung arti lain. Syekh Ibnu Malik dari Spanyol, dalam syairnya menjelaskan:

Ba’id wa bayyin wabtadi fil amkinah # Bi MIN wa qad ta’ti li bad’il azminah

Artinya: Maknailah dengan “sebagian”, kata penjelas dan permulaan tempat… dengan MIN. Tapi kadang ia untuk menunjukkan permulaan waktu.

Dari penjelasan Ibnu Malik di atas, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa MIN pada MIN-al aidin wal faizin tadi menunjukkan kata “sebagian” (lit-tab’idh). Jadi secara harfiyah, minal ‘aidin wal-faizin artinya: BAGIAN DARI ORANG-ORANG YANG KEMBALI DAN ORANG-ORANG YANG MENANG. Nah, pusing kan?

Tunggu dulu. Sabar, napa.

Kalimat di atas adalah kalimat doa. Baik dalam Al-Quran dan Hadis banyak kalimat-kalimat seperti itu yang menunjukkan doa kepada yang bersangkutan. Kita sering menambahi julukan kepada orang yang sudah wafat dengan tambahan “almarhum” yang artinya “yang dirahmati” (terserah orang tersebut rajin sholat atau gak pernah sama sekali). Sebab, itu hanya doa dan pengharapan “semoga ia dirahmati oleh Allah, diberikan kasih sayang-Nya di alam barzakh hingga hari Kiamat”.

Akan halnya dengan minal ‘aidin wal-faizin, ini juga doa: “Semoga anda termasuk (bagian dari) orang-orang yang kembali kepada fitrah kesucian dan termasuk (bagian dari) orang-orang yang mendapatkan kemenangan”. Amin.

Duh indahnya Islam. Sama orang yang nggak puasa saja, sempet-sempetnya kita doain yang bener.

Kesimpulannya?

Ya simpulkan saja sendiri. Yang jelas Minal Aidin tidak ada hubungannya dengan Mohon maaf lahir dan bathin. Menggunakan kalimat a, boleh. Memakai kalimat b, silakan saja. Tapi sekali lagi, mohon maaf lahir bathin itu bukan arti minal aidin. Asal jangan memilih c, karena minal aidin tidak pernah bisa memaafkan orang. Tapi pilihan saya adalah d, ini yang paling shahih.

Akhirnya, semoga kita minal ‘aidin wal faizin. Amin!

# Taufik Munir

]]>
By: Software UM http://jalansutera.com/2008/09/25/minal-aidin-wal-faizin-yang-tidak-ada-dalam-budaya-arab/#comment-19189 Software UM Tue, 06 Oct 2009 03:39:32 +0000 http://jalansutera.wordpress.com/?p=943#comment-19189 Ini bukti bahwa Indonesia memang Unik... Ini bukti bahwa Indonesia memang Unik…

]]>